Adik Ipar Ungkap Perasaan Mengganggu Pernah Dirangkul Hakim Jamaluddin

by
https://awsimages.detik.net.id/community/media/visual/2020/05/27/cce50e38-39af-4f41-93b4-2aef1817303e_169.jpeg?w=700&q=90
Sidang kasus hakim Jamaluddin (Datuk Haris Molana/detikcom)

Medan -

Persidangan kasus dugaan pembunuhan hakim PN Medan Jamaluddin yang dilakukan terdakwa Zuraida Hanum terus berlanjut. Dalam persidangan hari ini, adik Zuraida, Helvi Gustina, menjadi saksi meringankan.

Sidang berlangsung di PN Medan, Rabu (27/5/2020). Di ruang sidang, Helvi bercerita soal Jamaluddin yang pernah mengganggunya.

Helvi awalnya ditanyai soal apakah Jamaluddin pernah datang ke rumahnya di Jakarta atau tidak. Menurut Helvi, Jamaluddin memang sering menginap di rumahnya ketika ada perjalanan dinas ke Jakarta.

"Kenapa dia tinggal di situ? Tidak ngerti, pokoknya setiap selesai dinasnya itu, dari penginapan mampir ke rumah dulu pasti," ujar Helvi.

Saat itu juga Helvi mengaku pernah diganggu oleh Jamaluddin yang datang ke rumahnya di Jakarta. Kala itu, Helvi mengaku pernah ditarik, lalu dirangkul oleh Jamaluddin.

"Apakah pernah Jamaluddin dulu ketika datang ke rumah Saudara, mengganggu Saudara? Bagaimana?" tanya pengacara.

"Pernah," jawab Helvi.

Helvi bercerita lebih detail soal gangguan itu. Dia bercerita kejadian itu terjadi pagi hari. Ketika itu Helvi dan suaminya di rumah berencana untuk piknik liburan bersama keluarga.

"Suami saya bawa keluar anak-anak jajan sekitar jam 09.00 WIB. Terus saya di kamar lagi rapi-rapi, karena mau jalan-jalan. Terus dipanggil. Udah dipanggil. Nah, saya berdiri di pintu kamar yang beliau nginap. Terus pas saya nyampai depan kamar, saya pikir ada keperluan apa, namanya kan beliau lagi tempat kita, apa keperluan apa gitu. Setelah dia sampai ke depan pintu, spontan saya ditarik ke dalam. Saya maju dua langkah itu, terus saya langsung dirangkul," ujar Helvi.

Dia mengaku saat itu tak langsung berteriak karena takut warga sekitar bereaksi. Helvi khawatir, jika berteriak, akan memicu amarah warga.

"Saya spontan berpikir, kalau saya teriak, saya setop jangan teriak, kalau berteriak, langsung diamuk massa, adanya juga dibakar. Karena di tempat kita tinggal itu, memang kalau sedikit kita teriak langsung diamuk massa," sebut Helvi.

Helvi mengaku tak tahu alasan Jamaluddin melakukan hal tersebut. Dia mengatakan selalu menjaga jarak dengan Jamaluddin.

"Saya berpikir itu abang ipar saya. Terus saya spontan narik tangan saya langsung mundur. Nggak tahu apa yang ditabrak di belakang, untungnya nggak kenapa-kenapa. Napas nggak tahu entah kayak apaan. Itu nggak tahu tujuannya apa. Kalau di Nagan Raya, hubungan antara ipar memang kita jaga jarak gitu. Kita jaga batas-batasnya. Kok bisa dipanggil lalu ditarik sambil udah kayak ngerangkul," ujar Helvi.

Setelah kejadian itu, dia dan Jamaluddin tidak berkomunikasi sama sekali. Namun, katanya, Jamaluddin pernah tiba-tiba mengirim SMS kepadanya dengan nomor yang tidak diketahui.

Helvi pun mengaku tidak menggubris pesan singkat itu. "SMS itu seperti, 'Vi ini Bang Jamal tolong angkat telepon, Bang Jamal ada di Jakarta'. Saya nggak perduli karena status saya waktu itu lagi ada masalah rumah tangga," ujar Helvi.

Sikap Jamalauddin itu membuat Helvi tidak nyaman. Namun, karena Jamaluddin merupakan kakak iparnya, Helvi memendam perilaku suami kakak kandungnya itu. Sampai akhirnya setelah setahun lebih baru diceritakan ke Zuraida.

"Saya enek, benci, muak. Tapi, karena itu abang ipar saya, supaya mereka bahagia, saya diam saja, jangan sampai kakak tahu. Akhirnya, karena capek, saya pendam, kurang-lebih setahun setelah itu saya ceritakan ke Kak Hanum," sebut Helvi.

Dalam persidangan sebelumnya, Zuraida memang sempat mengatakan almarhum suaminya kerap mengganggu wanita lain, termasuk adiknya hingga instruktur senam di PN Medan.

"Adik saya juga diganggu Pak Jamal. Bukan anak saya saja. Mau wanita-wanita lain juga, banyak bukti-buktinya di HP saya. Foto-foto dia dengan perempuan lain. Termasuk instruktur senam di PN Medan, dia kirim foto tanpa baju, chatting," ujar Zuraida saat diperiksa sebagai terdakwa di PN Medan, Rabu (20/5).

Sementara itu, ibu Zuraida Hanum, Hayatun Nufus, yang turut menjadi saksi meringankan mengungkapkan keluarga Zuraida dan Jamaluddin tidak harmonis. Dia mengatakan keluarga anaknya itu tidak harmonis karena sikap Jamaluddin.

Hayatun menyebut Jamaluddin kasar terhadap Zuraida. Menurutnya, Zuraida dan Jamaluddin pernah saling memaki selama berjam-jam.

"Kasar itu ada kejadian di rumah, pas nggak ada saya di rumah. Itu kejadian Hari Raya ketiga. Maki-maki berjam," sebut Hayatun.

"Saksi kok tahu?" tanya pengacara.

"Ya anak saya yang lapor. Nangis dia (Zuraida)," ujar Hayatun.

Dia juga menyebut Zuraida pernah bercerita kalau Jamaluddin kerap bermain perempuan. Hayatun juga mengaku jarang ke rumah Zuraida-Jamaluddin di Medan karena perilaku menantunya.

(idn/idn)