https://awsimages.detik.net.id/visual/2020/04/14/f0cd06a6-385b-49ec-92c8-f570dddec992_169.jpeg?w=715&q=90
Foto: Vietnam di tengah wabah Covid-19 ( AP/Hau Dinh)

Lupakan 2020, Mari Berjuang untuk 2021 yang Lebih Baik!

by

Jakarta, CBC Indonesia - Sepertinya 2020 memang sudah tidak bisa diharapkan. Pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19) membuat ekonomi global terpukul keras hingga ke teritori kontraksi alias pertumbuhan negatif.

Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan ekonomi global tahun ini terkontraksi -3%. Namun ternyata pelaku pasar punya perkiraan yang lebih mengerikan.

Jajak pendapat yang dilakukan Reuters terhadap lebih dari 250 ekonom memperkirakan ekonomi dunia terkontraksi -3,2%. Lebih dalam ketimbang survei serupa sebulan sebelumnya yang memunculkan proyeksi -2%.

https://awsimages.detik.net.id/community/media/visual/2020/05/28/b4075cd9-9c53-4b74-b461-49ceb5f5514f.png?w=1085
Reuters

"Ekonomi dunia seperti sedang berlari di lintasan penuh halangan. Awalnya ada lubang besar, dimulai dari China pada kuartal I. Kemudian seluruh dunia masuk ke lubang itu dan terjebak sampai kuartal II dan kuartal III.

"Kemudian berikutnya ada tantangan berupa upaya membuka kembali aktivitas ekonomi tanpa membuat wabah menyebar lagi. Lalu kemudian ada halangan berupa bagaimana caranya untuk membuat konsumen kembali berbelanja. Sementara di sisi lapangan ada risiko berupa perang dagang yang siap menerkam kapan saja," papar Ethan Harris, Head of Global Economics Research di Bank of America Merrill Lynch, seperti dikutip dari Reuters.

Yup, 2020 memang seseram itu. Penyebaran virus corona yang bermula dari Kota Wuhan. Provinsi Hubei, Republik Rakyat China membuat pemerintah di berbagai negara menerapkan kebijakan pembatasan sosial (social distancing). Masyarakat diminta (atau bahkan diperintahkan) untuk tetap #dirumahaja demi mempersempit ruang penyebaran virus.

Namun ketika orang-orang bekerja, belajar, dan beribadah di rumah, maka sama saja dengan melumpuhkan ekonomi. Produsen tidak mampu menjual barang dalam jumlah sebanyak biasanya karena permintaan turun drastis. Pendapatan turun, sementara tagihan terus berjalan. Akibatnya terpaksa harus ada efisiensi biaya, salah satunya dengan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Seperti lingkaran setan, tsunami PHK dan penyusutan lapangan kerja membuat konsumen enggan untuk berbelanja. Lebih baik menabung untuk mempersiapkan diri andai nestapa ini memakan waktu lama. Porsi pendapatan untuk konsumsi (prospensity to consume) berkurang, dan semakin membuat dunia usaha tertekan.

Namun seiring dengan penyebaran virus corona yang mulai melambat, sejumlah negara telah dan akan melonggarkan social distancing. Sedikit demi sedikit keran aktivitas publik mulai dibuka meski tetap harus mematuhi protokol kesehatan.

Ini yang disebut dengan kenormalan baru alias new normal. Namun seiring dengan peningkatan interaksi dan kontak antar-manusia, risiko penyebaran virus kembali meningkat. Akan menjadi sangat tricky bagaimana caranya menyeimbangkan agar tidak terjadi lonjakan kasus corona tetapi masyarakat jangan lagi 'terpenjara; di rumah.

[Gambas:Video CNBC]


1 dari 2 Halaman