DKM Masjid di Bekasi Pastikan Sekeluarga Kena Corona Tak Terpapar Saat Salat Id

by
https://awsimages.detik.net.id/community/media/visual/2020/05/27/81ad44fb-fcd8-4ccf-a499-59781a576beb_169.jpeg?w=700&q=90
Ketua DKM Masjid Al Muhajirin H Naiwan (Foto: dok. pribadi)

Bekasi -

Pihak Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al Muhajirin, Bekasi Barat, Kota Bekasi, mengklarifikasi terkait adanya satu keluarga terpapar Corona dan sempat salat Id di masjid pada Minggu (24/5). Pihak DKM memastikan satu keluarga tersebut tidak terpapar Corona setelah mengikuti salat Id.

"Memang ada beredar informasi terkait warga Tenggiri 1 yang terpapar sakit COVID-19 atau tertular COVID-19. Perlu kami sampaikan bahwa memang benar ada warga dari Tenggiri 1 itu ada 4 orang yang terpapar COVID-19. Namun bukan (tertular) setelah salat Id," jelas Ketua DKM Masjid Al Muhajirin H Naiwan saat dihubungi detikcom, Rabu (26/5/2020).

Naiwan mengatakan pihaknya baru mengetahui ada jemaah salat Id yang terpapar COVID-19 itu pada Senin (25/5). Dari informasi yang diperoleh DKM, bahwa ada seorang ibu dan 2 anak serta seorang cucunya yang terpapar COVID-19 dan sempat ikut salat Id.

"Orang tua dari (dua) anaknya yang ikut salat itu, sejak Hari Jumat (22/5) sudah dirawat di salah satu rumah sakit Kota Bekasi dan anaknya dua orang berikut cucunya (pada saat itu) disuruh pulang oleh pihak rumah sakit, sehingga mereka pulang," kata Naiwan.

Pada saat sang ibu yang terpapar COVID-19 itu dibawa ke rumah sakit, keluhannya adalah sakit diabetes. Hari itu juga, pihak rumah sakit melakukan swab terhadap yang bersangkutan. Hasil tes swab baru diketahui pada Senin (25/5)

"Ketahuan positif itu Hari Senin (25/5) baru ada hasilnya. Anaknya memang tidak tahu kalau (ibunya saat itu) terpapar COVID," kata Naiwan.

Naiwan memastikan sang ibu tersebut saat itu tidak ikut salat Id lantaran posisinya sudah dirawat di rumah sakit. Akan tetapi, dua anak serta cucunya sempat ikut salat Id di Masjid Al Muhajirin pada Minggu (24/5) dan saat itu posisinya mereka belum mengetahui bahwa sang Ibu terpapar COVID-19. Informasi soal adanya sekeluarga terpapar COVID-19 itu diketahui pihak DKM sehari setelah pelaksanaan salat Id.

"Terkait ibu yang tadi, ibu itu kami garis bawahi sudah sakit sejak Hari Jumat, berarti bukan sakitnya setelah salat. Dia tidak ikut salat, yang salat itu kedua anak dan cucunya. Selanjutnya bahwa kami dapat informasi bahwa terpapar COVID-19 itu satu hari setelah salat Id itu hari Senin," katanya.

Setelah mengetahui adanya warga yang terpapar COVID-19, pihak DKM melakukan pengecekan absensi jemaah. DKM juga mengevaluasi protokol kesehatan terhadap dua anak dan cucu yang ikut salat Id tersebut.

"Oleh karena itu, kami cek lagi absensinya, kami cek lagi lapangan siapa yang bertugas dan kebetulan yang mengecek badannya itu orang lingkungan sana yang kenal bener sama kedua anaknya dan cucunya itu," katanya.

Dari hasil penelusuran pihak DKM, saat itu kedua anak dan cucu tersebut memang tidak menunjukkan gejala terpapar COVID-19. Saat ikut salat Id, ketiganya memakai masker dan menerapkan protokol kesehatan.

"Dalam pelaksanaannya, semua jemaah (suhu badannya) tidak ada yang melebihi 37 derajat, termasuk kedua anak dan cucunya ini. Ini semua mereka clear, tidak ada gejala dan suhunya di bawah 37 derajat," tuturnya.

Lebih lanjut Naiwan mengatakan jemaah yang ikut salat Id saat itu ada 700-an orang. Tetapi sejauh ini belum ada informasi adanya warga lain yang terpapar Corona, baik sebelum maupun setelah salat Id.

"Untuk saat ini informasinya baru itu saja (satu orang ibu, dua anak dan satu cucu)," tutupnya.

Salat Id dengan Protokol Ketat

Salat Id yang digelar di Masjid Al Muhajirin saat itu diikuti oleh sekitar 700-an orang dari RW 04. Naiwan menyampaikan pelaksanaan salat Id di masjid dilakukan setelah mendapatkan lampu hijau dari Pemkot Bekasi.

"Tapi sebelum ikut salat, kami selaku pengurus DKM memang sejak tanggal 23 Maret sudah melakukan penutupan masjid, mengikuti imbauan MUI dan pemerintah setempat dan baru kami buka kembali setelah ada lampu hijau dari Pemerintah Kota Bekasi yaitu boleh melaksanakan salat Id tanggal 24 (Mei) kemarin," kata Naiwan.

Naiwan memastikan pelaksanaan salat Id dilakukan dengan protokol ketat. Pihaknya membentuk panitia khusus terdiri dari 40 orang agar protokol ini diterapkan pada hari H.

"Sebelum kami melaksanakan salat Id, kami paham memang tahun ini kondisinya berbeda dengan tahun sebelumnya. Oleh karena itu, kami melakukan persiapan, salah satunya pembentukan panitia tidak hanya pengurus DKM, tetapi seluruh unsur RT yang ada di lingkungan RW 04, yaitu 10 RT mulai dari RT 1 sampai RT 10, kami bentuk panitia khusus. Ada 40 orang panitia yang bertugas untuk menyambut jemaah pada saat salat Id," tutur Naiwan.

Satu hari sebelum pelaksanaan salat Id atau Sabtu (23/5), pihaknya melakukan penyemprotan disinfektan di masjid. Panitia juga mengumumkan protokol kesehatan lewat pengeras suara masjid hingga menyebarkan flier.

"Flier-flier kami sebarkan melalui socmed di lingkungan RW 04 yang menyatakan bahwa untuk yang ikut salat Idul Fitri besok yang pertama dalam keadaan sehat, tidak sakit batuk-pilek apalagi sakit yang berat lainnya, seperti diabetes, jantung, ginjal, dan sebagainya. Nah, itu tidak diperbolehkan untuk ikut salat," sambungnya.

Pihak DKM juga mewajibkan jemaah untuk memakai masker dan berwudu terlebih dahulu sebelum berangkat ke masjid dan membawa sajadah sendiri dari rumah. Sebelum pelaksanaan salat Id, jemaah dicek suhu badan terlebih dahulu.

"Itu semua kami bentuk ada 5 tim untuk pengecekan suhu badan. Semua jemaah yang hadir tidak terkecuali akan dicek suhu badannya dan apabila suhu badannya lebih dari 37 derajat, kami akan tunda sebentar sementara mereka belum masuk--karena takutnya semua jemaah itu kan jalan kaki karena kondisi jalannya agak jauh--sehingga memerlukan waktu istirahat sebentar. Tapi dalam pelaksanaannya semua jemaah tidak ada yang melebihi 37 derajat, termasuk kedua anak dan cucunya ini, ini semua mereka clear tidak ada gejala dan suhunya di bawah 37 derajat," tandasnya.

(mei/fjp)