https://awsimages.detik.net.id/visual/2020/05/12/d046ca72-5ba5-4930-9f16-238d276461e5_169.jpeg?w=715&q=90
Foto: Presiden Donald Trump konferensi pers COVID-19. AP/Alex Brandon

Gokil! Dicap Sesat, Trump Ancam Tutup Media Sosial Twitter Cs

by

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden AS Donald Trump mengancam untuk mengatur lebih jauh perusahaan media sosial seperti Twitter hingga Facebook Cs. Bahkan Trump tak segan untuk menutupnya.

Hal ini terjadi sesaat setelah Twitter untuk pertama kalinya memberikan 'cap' kepada cuitan Trump. Cap tersebut adalah sebuah peringatan agar pengguna mengecek fakta terlebih dahulu cuitan Trump.

"Partai Republik merasa platform media sosial benar-benar membungkam suara konservatif. Kami akan sangat mengatur atau menutupnya sebelum membiarkan hal itu terjadi," tegas Trump dilansir Reuters, Rabu (27/5/2020).

"Bersihkan tindakanmu sekarang!" tambah Trump.

Twitter dan Facebook belum bisa dikonfirmasi Reuters. Sementara saham kedua perusahaan tersebut tercatat turun pada perdagangan pre-market.

Sebagai informasi pihak Twitter menyebut cuitan Trump tidak berdasar bahkan sesat. Ini pertama kalinya dilakukan sosial media tersebut setelah desakan muncul sejak tahun lalu.

Twitter menargetkan dua cuitan Trump. Pertama soal pemungutan suara melalui surat suara akan menyebabkan manipulasi pemilih dan "Pemalsuan Pemilu".

Cuitan Trump itu mengarahkan ke dugaannya atas kecurangan yang terjadi di California. Ia mengatakan siapapun yang tinggal di negara bagian itu, akan dikirimi surat suara padahal sebenarnya mereka sudah dipastikan bisa pergi ke bilik suara di mana mereka terdaftar.

Di bawah cuitan Trump itu, Twitter memosting tautan yang bertuliskan "Dapatkan fakta tentang surat suara masuk". Termasuk membawa pengguna ke sebuah link berita media AS yakni CNN dan Washinton Post soal klaim Trump yang tak berdasar.

"Trump secara keliru mengklaim bahwa surat suara secara langsung akan mengarah pada 'Pemalsuan Pemilu'," tulis Twitter dikutip dari AFP. "Namun, pemeriksa fakta mengatakan tidak ada bukti bahwa surat suara yang masuk terkait dengan penipuan pemilih."

Cuitan Trump melanggar kebijakan Twitter soal informasi yang kredibel. Termasuk membatasi penyebaran informasi yang berbahaya.

[Gambas:Video CNBC]

(dru)