https://statik.tempo.co/data/2020/05/23/id_940271/940271_720.jpg
Kongres Nasional Cina dipimpin Presiden Xi Jinping dimulai Jumat, 22 Mei 2020. [XINHUA NEWS]

Presiden Xi Jinping Minta Tentara Cina Siap Perang

by

TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Cina, Xi Jinping, meminta satuan militernya, People Liberation Army (PLA), meningkatkan kesiapannya untuk berperang. Dalam Kongres Nasional, Jinping mengatakan bahwa Cina telah memasuki masa di mana ancaman dari asing sangat potensial terjadi.

"Penting untuk meningkatkan kesiapan kita dalam berperang mulai dari menggelar latihan perang secara fleksibel hingga meningkatkan kemampuan militer dalam menjalankan misinya, " ujar Jinping sebagaimana dikutip dari South China Morning Post, Rabu, 27 Mei 2020.

Sebagaimana diketahui, hubungan Cina dengan sejumlah negara berada dalam kondisi panas-panasnya. Misalnya, dengan Amerika, Cina konsisten berseteru dengannya untuk banyak hal mulai dari pandemi virus Corona hingga konflik Laut Cina Selatan. Bahkan, di Laut Cina Selatan, Cina diduga telah mengoperasikan basis militernya untuk merespon penguatan militer Amerika di Indo-Pacific.

Selain dengan Amerika, ketegangan juga terjadi di antara Cina dan Taiwan. Cina megklaim Taiwan sebagai bagain dari dirinya sementara Taiwan mengklaim sebagai negara independen. Ketegangan di antara keduanya merembet ke berbagai hal, tak terkecuali soal keanggotan Taiwan di WHO.

Dari sekian banyak ancaman, Jinping menyebut Pasukan Kemerdekaan Taiwan sebagai ancaman paling nyata. Sebab, kata Jinping, mereka mencari dukungan dari negara-negara lain untuk memperkuat gerakan separatis mereka.

Misalnya, baru-baru ini, Amerika menjual kapal selam perang senilai US$180 juta kepada Taiwan untuk memperkuat lini alutsistanya. Sebelumnya, Presiden Taiwan Tsai Ing-wen juga memibeli tank perang senilai US$ 2,2 miliar serta pesawat tempur F-16 senilai US$ 8 miliar.

"Di sisi lain, situasi pandemi Corona menjadi tantangan tersendiri untuk militer kita," ujar Jinping yang menaikkan anggaran pertahanannya sebesar 6,6 persen year on year atau menjadi US$ 178 miliar.

Juru bicara Kementerian Pertahanan, Wu Qian, mengamini pernyataan Jinping. Ia berkata, ancaman paling nyata justru dari gerakan separatis Taiwan. Ia tidak akan kaget jika ketegangan antara Cina dan Taiwan berujung ke resolusi secara militer.

"Partai Demokratik Progresif di Taiwan sangat bergantung pada dukungan luar negeri dan makin jauh masuk ke gerakan separatis. Situasi Cina terhadap gerakan separatis ini makin buruk," ujar Qian yang menambahkan bahwa Cina harus hati-hati dalam mengatur pengeluaran di sektor pertahanan.

Pengamat militer dari Universitas Haifa, Yoram Evron, menganggap pernyataan Xi Jinping sebagai pertanda bahwa Cina sendiri tidak pede dengan militernya. Hal itu menyusul semakin banyaknya negara-negara yang menentang Cina .

"Cina merasa tidak aman, secara eksternal maupun internal. Mereka belum siap mengurangi pengembangan kekuatan militernya. Di saat bersamaan, pertumbuhan ekonomi menjadi halangan sehingga mereka tidak mau memasang ekspektasi tinggi juga," ujar Evron.

ISTMAN MP | SOUTH CHINA MORNING POST