https://awsimages.detik.net.id/visual/2020/03/02/16a178d1-6a05-4f66-84c9-92711219339e_169.jpeg?w=715&q=90
Foto: Ruang Isolasi RSPi Sulianti Saroso. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Pakar Epidemiologi UI: Jangan Dulu Terapkan New Normal DKI

by

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Joko Widodo (Jokowi) berencana untuk menerapkan kehidupan normal baru atau a new normal dalam waktu dekat. A new normal mengacu pada tingkat reproduksi efektif (Rt) di bawah 1. Jakarta di nilai sudah mencatatkan Rt di bawah 1 dan dinilai siap untuk diterapkan new normal

Pakar Epidemologi Universitas Indonesia (UI) Tri Yunis Miko Wahyono memandang bahwa melihat kesadaran masyarakat yang masih minim untuk menerapkan protokol kesehatan, rasanya sangat berisiko apabila new normal diterapkan di Jakarta.

Untuk diketahui, berdasarkan website pemantauan kasus covid-19 di Jakarta yakni www.corona.jakarta.go.id, sampai pukul 16.00 WIB, jumlah pasien positif virus corona atau covid-19 di Jakarta terus mengalami kenaikan. Saat ini jumlahnya mencapai 6.826 kasus.

Dalam website www.corona.jakarta.go.id tersebut, tertera sebanyak 1.698 orang sembuh. Pasien meninggal 510 orang, dan 2.032 orang masih menjalani perawatan dan ada 2.584 orang yang menjalani isolasi mandiri.

Selain itu, jumlah yang masih menunggu hasil sebanyak 1.794 kasus. Kemudian sebanyak 4.996 kasus yang telah diketahui titik penyebaran berdasarkan kelurahannya dan 531 belum diketahui.

Sedangkan terdapat 1.299 pasien diketahui positif di luar Jakarta. Ribuan kasus tersebut tersebar di lima kota administrasi di Jakarta. Mulai dari Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu.

"Jadi, harusnya Jakarta jangan dibuka terlebih dahulu atau diterapkan new normal. Setelah kasusnya terkontrol, baru silahkan," kata Tri Yunis kepada CNBC Indonesia, Rabu (27/5/2020).

"Lakukan lah new normal di kabupaten atau kota yang tidak ada kasusnya. Misalnya Tegal sudah 0, Bogor sudah 0, lakukan lah di kota-kota tersebut yang kasusnya sudah 0. Yakinkan bahwa semua sistem dan persiapan sudah jalan dan yakinkan bahwa tidak ada penambahan kasus yang banyak lagi di kabupaten/kota tersebut," tuturnya melanjutkan.

Lebih lanjut, Tri Yunis menyarankan, sebaiknya penerapan new normal dilakukan secara bertahap di masing-masing daerah. Misalnya saja untuk daerah-daerahh yang Rt 0 maka boleh diterapkan new normal.

Artinya, dengan luasnya Indonesia yang terdiri dari 34 Provinsi dan 500 lebih kabupaten dan kota, apabila kabupaten-kabupaten dan kota yang sudah Rt 0 dan satbil tidak ada penularan, maka boleh diterapkan new normal.

"Jadi, jangan di seluruh di Indonesia. Sementara di Jakarta jangan lah. Jakarta masih banyak merahnya, jangan terlalu dipaksakan, dan jangan dibuka," jelasnya.

[Gambas:Video CNBC]

(dru)