https://awsimages.detik.net.id/visual/2018/12/05/f0f2048b-347c-43dc-a57d-97c7af737a10_169.jpeg?w=715&q=90
Foto: Pria melihat papan kutipan saham di luar broker di Tokyo, Jepang, 5 Desember 2018. REUTERS / Issei Kato

Sentimen Campur Aduk, Bursa Asia Ditutup Bervariatif

by

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham di kawasan Asia pada penutupan perdagangan Rabu (26/5/2020) terpantau bervariatif. Sentimen global memang cenderung mixed hari ini.

Bursa Saham China Daratan, Shanghai Stock Exchange (SSE) mengalami depresiasi sebesar 0,34% merespons laporan dari Bloomberg News yang mengatakan Amerika Serikat (AS) sedang mempertimbangkan sanksi terhadap perusahaan dan pejabat China atas situasi di Hong Kong.

Laporan itu dikeluarkan setelah Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih, Robert O'Brien, mengatakan AS kemungkinan akan menjatuhkan sanksi terhadap China jika Beijing menerapkan undang-undang keamanan nasional yang akan memberinya kontrol lebih besar atas Hong Kong yang otonom.

Presiden AS Donald Trump sendiri mengeluarkan pernyataan pada Selasa (26/05/20) kemarin bahwa dia sedang menyiapkan balasan dalam minggu ini untuk undang-undang baru mengenai keamanan Hong Kong yang akan dikeluarkan China.

Sementara itu dari wilayah administratif China, Hong Kong, Indeks Hang Seng turun sebesar 0,36% setelah Pemimpin Eksekutif Hong Kong Carrie Lam kemarin sore (26/5/20) gagal untuk menenangkan rakyatnya, menurut Carrie tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena Undang-Undang keamanan baru itu tidak akan merusak demokrasi dan kebebasan berpendapat di Hong Kong, dan lebih baik menunggu untuk melihat isi Undang-Undang tersebut terlebih dahulu.

Hari ini (27/5/20) demonstrasi lanjutan yang berjumlah ratusan orang yang di dominasi oleh para pelajar dan buruh melakukan unjuk rasa di daerah jantung perekonomian Hong Kong

"Walaupun dalam hati anda takut, tapi anda perlu untuk menyuarakan pendapat anda," kata Chang, 29, seorang penjaga toko yang ikut demonstrasi pada hari ini.

Banyak toko, bank, dan perkantoran yang ditutup lebih awal hari ini. Polisi Hong Kong terpaksa membubarkan demonstrasi ini menggunakan gas air mata. Menurut Kepolisian Hong Kong mereka menahan 16 orang berumur 14 sampai 40 tahun.

Demonstrasi hari ini sendiri bertajuk penolakan terhadap undang-undang baru yang akan menghukum orang yang tidak menghormati lagu kebangsaan China dan undang-undang keamanan Hong Kong yang baru.

Sedangkan dari negara tetangga Singapura, Indeks STI anjlok sebesar0.43%. Kenaikan ini merespons pernyataan dari Menteri Perdagangan dan Industri (MTI) Singapura yang menyatakan bahwa Produk Domestik Bruto (GDP) Negeri Singa akan terkontraksi 4 persen sampai dengan 7 persen tahun ini. Sebelumnya MTI memprediksi kontraksi hanya pada angka 1 persen sampai dengan 4 persen.

Pemerintah Singapura juga kembali mengumumkan paket stimulus sejumlah 33 miliar dolar Singapura (Rp 342,8 triliun) guna mendukung ekonomi negara yang tidak stabil akibat pandemi corona.

Dari Jepang, Indeks Nikkei berhasil ditutup naik 0,70% setelah pemerintah jepang dikabarkan akan kembali meggelontorkan paket stimulus baru senilai 117 triliun yen (Rp 16.055 triliun).

"Kita harus melindungi bisnis dan pekerjaan dengan cara apa pun dalam menghadapi jalan yang sulit di depan. Kita juga harus mengambil semua langkah yang diperlukan untuk mempersiapkan gelombang epidemi yang lain," ujar Perdana Menteri Shinzo Abe dalam pertemuan dengan anggota parlemen partai yang berkuasa.

Jika disetujui, sejauh ini Jepang sudah mengeluarkan total 234 triliun yen, atau sekitar 40% dari produk domestik bruto negara. Angka yang sama juga digelontorkan April lalu.

Di negara lain di Asia seperti di Korea Selatan indeks Kospi naik tipis 0,07%. Sementara itu dari dalam negeri Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik ke level 4641,55 atau apresiasi sebesar 0,32%. 

TIM RISET CNBC INDONESIA

(trp/trp)