https://statik.tempo.co/data/2017/10/02/id_652192/652192_720.jpg
Ilustrasi pembunuhan. shutterstock.com

Kematian George Floyd Picu Kerusuhan di Minneapolis, Amerika

by

TEMPO.CO, Jakarta - Kematian George Floyd, yang tewas kehabisan napas akibat lehernya diduduki oleh polisi, memicu kerusuhan di Minneapolis. Ribuan warga kulit hitam Amerika turun ke jalan, menuntut Kepolisian dan Pemerintah Minneapolis untuk mengusut tuntas kasus meninggalnya Floyd.

Dikutip dari Daily Mail, Rabu, 27 Mei 2020, mayoritas demonstran hadir sambil membawa papan atau baliho yang bertuliskan "I Can't Breathe" dan "Justice 4 Floyd". "I Can't Breathe" adalah kata-kata terakhir Floyd sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya di bawah lutut seorang polisi Minneapolis pada hari Senin kemarin.

Pada awalnya, kasus meninggalnya Floyd tidak menimbulkan kerusuhan. Tak lama setelah Floyd dinyatakan meninggal dan videonya viral di internet, ribuan warga berkumpul di tempat kejadian perkara untuk berduka. Masing-masing hadir sambil mengenakan masker untuk menghindari penularan virus Corona (COVID-19).

Seiring berjalannya waktu, jumlah warga di TKP terus bertambah dan demonstrasi menjadi berjalan sepanjang malam. Keesokan harinya, Selasa, para demonstran yang bertahan disambut pasukan polisi yang menembaki mereka dengan gas air mata dan peluru busa. Demonstrasi damai berubah menjadi kerusuhan.

Demonstran pendukung Floyd dan Kepolisian Minneapolis saling serang sepanjang hari Selasa. Setiap kali Kepolisian menembakkan gas air mata dan peluru busa, warga membalas dengan melempar objek di sekitar mereka serta botol air.

Wali Kota Minneapolis, Jacob Frey, memaklumi reaksi warga perihal kasus kematian Floyd. Sebab, Frey sendiri menyakini bahwa kematian Floyd sangatlah tidak adil dan produk dari sikap rasis. Itulah kenapa, kata Frey, dirinya mendukung pemecatan para personil yang terlibat kasus Floyd.

"Menjadi warga kulit hitam di Amerika tak seharusnya berujung pada hukuman mati. Kita telah melihat kasus di mana seorang polisi kulit putih menduduki leher seorang pria kulit hitam hingga ia tewas," ujar Frey.

Kepolisian Minneapolis menyampaikan bahwa keempat personil yang terlibat kasus kematian Floyd telah dipecat. Selain itu, FBI telah dilibatkan untuk memastikan kasus kematian Floyd diusut tuntas. Walau begitu, mereka meminta warga Minneapolis untuk bersabar soal hasil investigasinya.

"Kami mohon tunggu hingga investigasinya berlangsung dan jangan langsung membuat penilaian buruk yang menjatuhkan nilai personil kepolisian kami," ujar Kepolisian Minneapolis.

Hingga berita ini ditulis, kasus Floyd memang belum terungkap lengkap. Video-video saksi mata yang beredar di internet hanya menampilkan bagian di mana leher Floyd diduduki oleh polisi agar tidak kabaru. Apa yang terjadi sebelum dan sesudahnya peristiwa tersebut belum terungkap.

Dalam keterangan Kepolisian Minneapolis, disebutkan bahwa Floyd, yang bekerja sebagai penjaga tempat hiburan, diduga terlibat kasus pemalsuan. Ketika dirinya hendak diminta keterangan oleh personil Kepolisian Minneapolis, dirinya diklaim melawan. Walhasil, menurut laporan, personil Kepolisian Minneapolis tak memiliki pilihan selain melumpuhkannya.

ISTMAN MP | DAILY MAIL | SOUTH CHINA MORNING POST