Sejumlah Daerah yang Masih 'Enggan' Terapkan New Normal

by
https://awsimages.detik.net.id/community/media/visual/2020/05/26/00f5936e-c4c9-4832-9616-65a0ce66bd75_169.jpeg?w=700&q=90
Foto: Indonesia sedang menyiapkan diri untuk menghadapi new normal (dok detikcom)

Jakarta -

Pemerintah Indonesia sedang menyiapkan diri untuk menyambut era new normal untuk menghadapi Corona. Namun, ada sejumlah daerah yang belum siap menerapkan skema new normal ini.

New normal atau normal baru adalah kondisi yang tak pernah sama dengan sebelumnya. Kebiasaan sehari-hari harus diubah menyesuaikan dengan protokol kesehatan pencegahan COVID-19.

Langkah untuk menyambut era normal baru ini terlihat dari kegiatan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang meninjau Summarecon Mall Bekasi, Jawa Barat.

Jokowi tiba di Summarecon Mall Bekasi, Jawa Barat, Selasa (26/5/2020) pukul 13.53 WIB. Jokowi didampingi Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Kapolri Jenderal Idham Azis, dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

Dalam pernyataannya, Jokowi kembali mengingatkan soal penerjunan TNI-Polri untuk mendisiplinkan masyarakat di titik-titik keramaian guna memutus penyebaran COVID-19. Jokowi juga menyatakan ingin bangsa ini tetap produktif tapi aman dari COVID-19.

"Kita ingin tetap produktif tapi aman COVID. Produktif dan aman COVID, ini yang kita inginkan," kata Jokowi.

Jokowi juga menyinggung angka penyebaran COVID-19 di Bekasi yang disebutnya berada di bawah 1. Jokowi ingin ini dipertahankan dan tak tertutup kemungkinan daerah lain akan diperlakukan seperti Bekasi.

Namun, ada sejumlah daerah yang masih enggan menerapkan skema normal baru karena belum siap. Berikut ini daftar daerah yang masih enggan menjalankan normal baru.

Jawa Tengah

Gubernur Ganjar Pranowo berbicara soal skenario pemberlakuan new normal atau normal baru di Jawa Tengah. Salah satunya adalah syarat grafik kasus virus Corona (COVID-19) di Jateng harus turun lebih dulu.

"Tapi kita belum akan melakukan normal baru dalam waktu pendek. Kalau nanti kita melihat grafiknya masih tinggi tentu normal baru belum bisa kita terapkan. Grafiknya harus turun dulu. Kalau sudah mulai turun ekstrem sampai hampir menyentuh batas bawah, nah itu normal baru bisa. Sekarang kita latihan dulu," kata Ganjar kepada wartawan di rumah dinasnya, Semarang, Selasa (26/5/2020).

Ganjar menekankan saat ini merupakan masa latihan karena penerapan new normal harus melihat kasus Corona yang terjadi. Jika sudah mulai landai maka new normal bisa dijalankan.

Selain itu, agar jalannya new normal bisa optimal, Ganjar berharap kepala daerah mengeluarkan regulasi.

Ganjar mengatakan panduan penerapan new normal telah dia terima, demikian pula para bupati dan wali kota. Instansi pemerintah harus memberi contoh terlebih dahulu sebelum masyarakat menerapkannya. Maka Ganjar menyebut penataan dilakukan mulai hari ini.

"Jadi yang layanan umum mesti mengikuti protokol kesehatan, biasanya yang berhubungan dengan masyarakat langsung ada tabir pembatasnya. Yang back office mereka kita minta untuk mengatur jaraknya agar tidak terlalu dekat," ujar Ganjar.

Ganjar berharap instansi atau perkantoran swasta juga mulai melakukan penataan untuk penerapan new normal. Ganjar mencontohkan salah satu pabrik di Kudus sudah bisa menerapkannya.

"Di Kudus kemarin sudah ada yang menerapkan, maka beberapa pabrik juga kita minta untuk melakukan itu agar bisa ditiru. Pasar-pasar di Salatiga juga telah lebih dulu," ujarnya.

Jawa Timur

Sikap senada juga disampaikan oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Khofifah menyatakan Jatim masih belum akan menerapkan hal tersebut.

"Hari ini kita tentu belum akan menerapkan new normal. Tetapi secara parsial kita mendiskusikan dengan berbagai kalangan secara terbatas," kata Khofifah di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Selasa (26/5/2020).

Meski belum akan menerapkan, Khofifah mengaku tidak menutup kemungkinan akan menerapkan new normal di Jatim. Dirinya masih berdiskusi dengan berbagai pihak terkait hal tersebut.

"Nanti misalnya kalau kita akan memasuki new normal seperti apa. Format-format diskusi dan FGD secara virtual dengan melibatkan BI dan OJK serta ekonom terus dilakukan. Dan kita akan menyiapkan berbagai tahapan. Saya minta ada plan A, B, C. Tetapi itu semua baru akan kita laksanakan setelah rate of transmission kita memastikan di bawah 1," jelas Khofifah.

Untuk rate of transmission, menurut Khofifah data hingga hari ini Jatim masih berada di angka 1,32. Terkhusus di Surabaya angkanya mencapai 1,6.

"Jadi kita akan memastikan bahwa penurunan dari rate of transmission ini menjadi penting untuk kita menjadikan patokan kapan kita akan memulai new normal. Hari ini konsentrasi kita adalah pada penurunan penyebaran dan penghentian penyebaran," terangnya.