https://awsimages.detik.net.id/visual/2018/11/26/82d1760a-f409-462d-a8ac-50b7e5af0baa_169.jpeg?w=715&q=90
Foto: Foto Ilustrasi mata uang Dolar Australia. REUTERS / Daniel Munoz / File Photo

Westpac: Dolar Australia, Jadi Investasi yang Bagus

by

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar dolar Australia melemah melawan rupiah pada perdagangan Rabu (27/8/2020) setelah menguat tajam Selasa kemarin. Meski sedang melemah, dolar Australia dikatakan akan menjadi mata uang yang paling ingin dimiliki ketika risk appetite sedang bagus yang tercermin dari penguatan bursa saham.

Pada pukul 13:35 WIB, AU$ 1 setara Rp 9.769,66, dolar Australia melemah 0,25% di pasar spot, melansir data Refinitiv. Kemarin, mata uang Negeri Kanguru melesat nyaris 2%.

Sementara melawan dolar Amerika Serikat (AS), dolar Australia melemah 0,21% ke US$ 0,6637. Tetapi kemarin melesat 1,64% ke US$ 0,6651 yang merupakan level terkuat sejak 9 Maret lalu.


Pada 18 Maret lalu, dolar Australia menyentuh level terendah dalam lebih dari 8 tahun terakhir di Rp 8.771,92/AU$. Dari level tersebut hingga hari ini, dolar Australia sudah menguat lebih dari 11%.

Sementara melawan dolar AS, pada 19 Maret lalu dolar Australia menyentuh level terlemah 17 tahun melawan dolar AS di US$ 0,5741. Sejak saat itu, dolar Australia sudah menguat 15,85%

Penguatan dolar Australia tersebut dikatakan akibat mulai optimisnya pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi global yang memicu penguatan bursa saham. Jika kondisi tersebut terus berlanjut, dolar Australia diprediksi akan menjadi mata uang yang paling diincar pelaku pasar dan dijadikan investasi.

"Dolar Australia adalah mata uang yang anda inginkan untuk dijadikan investasi ketika bursa saham mulai pulih," kata Sean Callow, ahli strategi mata uang di bank Westpac, sebagaimana dilansir Financial Review.

"Kami akan mengatakan dalam jangka pendek, dolar Australia akan sangat kuat dan tidak bijaksana jika kita menjualnya. Mata uang ini merupakan proxy untuk risk appetite global yang sangat populer," tambahnya.

Saat ini, dolar Australia sedang dalam kondisi yang bagus setelah kebijakan karantina wilayah (lockdown) sudah dilonggarkan sejak tiga pekan lalu, tetapi tidak mengalami lonjakan kasus baru.

Berdasarkan data Worldometer, hari ini ada kasus baru sebanyak 6, sehingga total menjadi 7.139 kasus di Australia. Dari total tersebut, 103 orang meninggal dunia, dan 6.560 atau 92% pasien sembuh.

Perdana Menteri (PM) Australia, Scott Morison Jumat (8/5/2020) lalu mengumumkan akan melonggarkan lockdown dalam tiga tahap, dan membuka seluruhnya di bulan Juli.

Tahap pertama pelonggaran lockdown Australia akan mengizinkan restoran dan kafe kembali beroperasi dan diperbolehkan melayani 10 konsumen dalam satu waktu. Jika tidak terjadi penyebaran kasus, maka tahap kedua akan dimulai dengan mengizinkan gym dan bioskop kembali buka dan melayani 10 konsumen dalam satu waktu.

Tahap ketiga pemerintah akan mengizinkan kerumunan hingga 100 orang dan perkantoran kembali beroperasi. Wisatawan domestik juga akan diizinkan berpergian.

Australia Selatan bahkan akan memulai pelonggaran tahan dua pada Senin (1/6/2020) pekan depan. Pelonggaran tahap dua harusnya dilakukan pada 8 Juni 2020.

Sejak 7 Mei lalu, Australia Selatan sudah tidak melaporkan adanya tambahan kasus Covid-19, total kasus di negara bagian tersebut sebanyak 439 kasus.

Perdana Menteri Australia Selatan, Steven Marshall, mengatakan "hasil yang luar biasa" memberikan pemerintah kepercayaan untuk melonggarkan kebijakan lockdown secara perlahan tetapi tetap berhati-hati.


TIM RISET CNBC INDONESIA  (pap/pap)