https://awsimages.detik.net.id/visual/2018/09/07/ebae35a7-946e-4fe3-ae39-3dcb70c84f5e_169.jpeg?w=715&q=90
Foto: BCA REUTERS/Willy Kurniawan

Per Mei, BCA Restrukturisasi 72.000 Debitur Senilai Rp 82,6 T

by

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tengah memproses restrukturisasi kredit sekitar Rp 65 triliun hingga Rp 82,6 triliun atau setara dengan 10%-14% dari keseluruhan portofolio kredit bagi debitur yang terdampak pandemi virus corona (Covid-19) hingga Mei 2020 ini.

Jumlah restrukturisasi itu berasal dari sekitar 72.000 debitur atau 10% dari total debitur seluruh segmen. Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja mengatakan upaya restrukturisasi ini sejalan dengan inisiatif pemerintah dalam mendukung kelanjutan usaha pelaku bisnis dan perekonomian nasional.

Jahja menegaskan BCA melihat ada potensi peningkatan jumlah restrukturisasi kredit dalam beberapa bulan ke depan hingga sekitar 20-30% dari total kredit yang berasal dari 250.000-300.000 debitur.

"Dalam kondisi saat ini, kami berkomitmen membantu nasabah yang kompeten dalam melalui situasi ekonomi yang tidak menentu akibat dampak pandemi Covid-19. Kami hingga saat ini sedang memproses restrukturisasi kredit kepada nasabah tertentu dalam tiap segmen agar mencapai keberhasilan pemulihan," kata Jahja dalam paparan virtual kinerja keuangan kuartal I-2020, Rabu (27/5/2020).

Dari sisi kinerja keuangan, BBCA mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp 6,58 triliun selama kuartal I-2020, atau naik 8,58% dari periode yang sama tahun 2019 sebesar Rp 6,06 triliun.

Sementara laba bersih bank only atau individual BCA pada periode 3 bulan pertama tahun ini yakni sebesar Rp 6,10 triliun, naik 8,61% dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp 5,62 triliun.

Per Maret 2020, portofolio kredit bank tumbuh 12,3% YoY (year on year) menjadi Rp 612,2 triliun. Pertumbuhan tersebut terutama didukung oleh kredit korporasi yang meningkat 25,4% YoY menjadi Rp 260,4 triliun. Sementara itu, kredit komersial dan UKM naik 5,0% YoY menjadi Rp 191,2 triliun.

Adapun kredit konsumer tumbuh moderat sebesar 3,0% YoY menjadi Rp 154,9 triliun sejalan dengan tren pertumbuhan pembelian rumah dan otomotif yang lambat.

https://awsimages.detik.net.id/community/media/visual/2019/07/27/2da872f7-30e2-4b7c-a649-1d1391ffbe71_169.jpeg?w=620
Foto: Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja (REUTERS/Willy Kurniawan)

Pada segmen kredit konsumer, KPR tumbuh 7,0% menjadi Rp 92,5 triliun; Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) turun 2,1% YoY menjadi Rp 47,2 triliun; dan outstanding kartu kredit turun 3,7% YoY menjadi Rp12,4 triliun.

Pada periode yang sama, pembiayaan syariah meningkat 19,8% YoY menjadi Rp5,7 triliun. Dari perspektif Sustainable Finance, portofolio pembiayaan untuk kegiatan usaha berbasis lingkungan mencapai Rp 118,6 triliun pada akhir Maret 2020, tumbuh 17,0% YoY.

"Posisi permodalan BCA solid dengan likuiditas yang sehat. Sepanjang triwulan I 2020 kami mencatat pertumbuhan kredit yang positif secara triwulanan terutama didukung segmen korporasi, dibandingkan dengan pertumbuhan QoQ [quarter on quarter] yang negatif pada Maret tahun lalu," kata Jahja.


Jahja mengatakan, kepercayaan nasabah dan upaya yang konsisten meningkatkan keunggulan franchise perbankan transaksi BCA menopang pertumbuhan dana murah atau current account and saving account (CASA) yang solid.

Pada Maret 2020, dana CASA BCA tumbuh 17,3% YoY, mencapai Rp 568,5 triliun dan berkontribusi sebesar 76,7% dari total dana pihak ketiga.

Jumlah rekening juga menunjukkan tren kenaikan, yaitu sebesar 13,7% YoY mencapai 22 juta rekening, karena turut didukung layanan pembukaan rekening online. Deposito tumbuh tinggi sebesar 15,1% YoY mencapai Rp172,5 triliun, meskipun terdapat tren penurunan suku bunga deposito. Total dana pihak ketiga (DPK) meningkat 16,8% YoY menjadi Rp 741,0 triliun. Posisi likuiditas tetap kokoh dengan rasio LDR (loan to deposit ratio) sebesar 77,6%.

Laba bersih I-2020 mendorong posisi permodalan BCA dengan rasio kecukupan modal (CAR) tetap kokoh sebesar 22,5%. Rasio NPL (kredit bermasalah) terjaga pada level yang rendah di 1,6% pada akhir Maret 2020, sementara beban provisi meningkat 121,9% YoY sejalan dengan antisipasi terhadap tantangan pelemahan kualitas kredit. Rasio pengembalian terhadap aset (ROA) sebesar 3,2%, sementara rasio pengembalian terhadap ekuitas (ROE) sebesar 15,6%.

Bank yang terafiliasi dengan Grup Djarum ini juga membukukan kenaikan aset sebesar 6,08% secara year on year (bank only) atau sebesar 5,87% yoy (secara konsolidasi). Nilai aset selama kuartal I/2020 adalah sebesar Rp 953,70 triliun (bank only) dan secara konsolidasi sebesar Rp 972,93 triliun.

[Gambas:Video CNBC]

 

(tas/tas)