https://awsimages.detik.net.id/visual/2020/04/07/0e85de40-b1c4-4f13-b4ad-d5bbbc566a8d_169.jpeg?w=715&q=90
Foto: hydroxychloroquine, obat malaria yang diklaim Trump bisa sembuhkan Covid-19 (AP/John Locher)

Alert! WHO Minta RI Setop Pakai Klorokuin untuk COVID-19

by

Jakarta, CNBC IndonesiaOrganisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendesak Indonesia untuk menangguhkan penggunaan obat malaria seperti chloroquine (klorokuin) dan hydroxychloroquine (hindroksiklorokuin) untuk mengobati pasien terinfeksi virus corona (COVID-19). Alasannya adalah karena adanya masalah keamanan dalam penggunaan obat.

Hal ini ditulis Reuters, dengan mengutip sumber, Selasa (26/5/2020). Sumber yang tidak disebutkan identitasnya itu juga mengatakan WHO telah mengirim pemberitahuan kepada Kementerian Kesehatan RI soal penundaan penggunaan obat-obatan tersebut.

Dalam artikelnya, media ini menulis bahwa Indonesia adalah salah satu pengguna terbesar dua obat malaria itu untuk menangani COVID-19. Menurut sebuah laporan dari kementerian kesehatan yang disiapkan untuk parlemen, perusahaan-perusahaan Indonesia sedang dalam proses untuk menghasilkan 15,4 juta dosis dua obat tersebut antara April hingga Mei.

Erlina Burhan, seorang dokter yang membantu menyusun pedoman pengobatan untuk virus corona sebagai anggota dari Asosiasi Pulmonolog Indonesia, telah mengkonfirmasi bahwa asosiasi tersebut telah menerima saran baru dari WHO untuk menangguhkan penggunaan obat-obatan yang dimaksud.

"Kami membahas masalahnya dan masih ada beberapa perselisihan. Kami belum memiliki kesimpulan," katanya kepada Reuters.

Sebelumnya pada hari Senin, WHO juga telah mengumumkan penangguhan penggunaan hidroksiklorokuin untuk pasien COVID-19 dalam uji klinis global. Lembaga yang berbasis di Jenewa, Swiss itu menyarankan agar tidak menggunakan obat malaria untuk pasien COVID-19 di luar uji coba tersebut.

Efek berbahaya dari penggunaan dua jenis obat tersebut pada penderita COVID-19 bukan hanya disampaikan WHO. Pekan lalu, jurnal medis Lancet menerbitkan studi paling komprehensif hingga saat ini mengenai obat-obatan tersebut. Studi itu menemukan bahwa pasien virus corona yang menerima pengobatan dengan kedua obat itu lebih cenderung mengalami gangguan irama jantung dan lebih mungkin untuk meninggal.

Peringatan efek samping penggunaan obat-obatan itu juga disampaikan oleh Stephen Nissen, seorang ahli jantung dan kepala akademis dari Miller Family Heart, Vascular & Thoracic Institute di Cleveland Clinic. Nissen mengatakan ia terkejut pihak berwenang Indonesia pernah merekomendasikan penggunaan obat-obatan itu secara luas.

"Kita tahu obat-obat ini menghasilkan efek samping kardiovaskular yang jarang terjadi, tetapi sangat serius dan berpotensi mematikan, yang merupakan gangguan irama jantung yang sangat sulit diobati," katanya.

"Jadi ide memberi obat-obat itu secara rutin berdasarkan bukti manfaat yang paling kecil sama sekali tidak masuk akal."

Bahkan menurut Jane Quinn, seorang peneliti farmakologi di Universitas Charles Sturt Australia, obat anti-malaria bisa lebih berbahaya bagi orang Indonesia daripada kelompok lainnya, karena profil enzim yang ada pada populasi Indonesia.

"Bukti dari melihat enzim-enzim tersebut secara global adalah bahwa populasi di Indonesia sebenarnya jauh lebih efektif dalam memecah klorokuin dan hidroksiklorokuin," katanya. Ia menambahkan, hal ini dapat membuat obat-obatan tersebut kurang efektif dan lebih beracun.

[Gambas:Video CNBC]

(res)