https://awsimages.detik.net.id/visual/2019/07/19/c06fd979-bafe-49cf-9109-15c3bfea6a07_169.jpeg?w=715&q=90
Foto: Kilang Minyak Cilacap. Kilang Cilacap merupakan kilang minyak terbesar di Indonesia dengan kapasitas mencapai 348 ribu barel/hari atau 33,4% dari total kapasitas kilang nasional. (CNBC Indonesia/Gustidha Budiarti)

Putus sama Aramco, Mampukah Pertamina Bangun Kilang Sendiri?

by

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Pertamina (Persero) akhirnya memutuskan untuk melanjutkan Refinery Development Master Plan (RDMP) Cilacap sendiri tanpa raksasa minyak Saudi Aramco.

Praktisi migas dari Bimasena Energy Team yang juga Eks Bos Pertamina Ari Soemarno menyebut jika pengembangan kilang Cilacap dikerjakan Pertamina sendiri akan sangat sulit dan bahkan bisa dikatakan tidak mungkin Pertamina bisa membiayai sendiri.

"Akan sangat sulit bahkan boleh dikatan tidak mungkin Pertamina mendanai sendiri, tanpa partner," ungkapnya kepada CNBC Indonesia, Rabu, (27/05/2020).


Ari menjelaskan pembangunan kilang baik berupa modifikasi atau pembaharuan kilang yang ada maupun kilang baru sebelum pandemi saja sudah sulit. Apalagi sekarang ditambah dengan ada pandemi Covid-19 yang membuat kondisi keuangan menjadi sangat sulit.

"Di masa sebelum kondisi Covid saja sudah demikian. Di mana tahun ini revenue dan profit Pertamina akan turun drastis," jelasnya.

Sebelumnya, VP Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman. Fajriyah mengatakan Pertamina akan melanjutkan RDMP Cilacap secara mandiri, sembari mencari partner baru.
"Pertamina akan melanjutkan RDMP Cilacap secara mandiri, sambil secara paralel akan dilakukan pencarian strategic partner," ungkapnya saat dihubungi CNBC Indonesia, Selasa, (26/05/2020).

Sementara untuk proyek kilang yang lain, kegiatan operasional masih akan terus berjalan dengan memperhatikan protokol Covid-19. "Kalau untuk kegiatan operasional, sampai saat ini tetap berjalan dengan protokol keamanan dan kesehatan," paparnya.

Lobi investasi Kilang Cilacap sudah berlangsung cukup lama, Indonesia sudah melakukan pendekatan  dengan Saudi Aramco sejak tahun 2014 untuk berinvestasi di Kilang Cilacap bersama dengan PT Pertamina (Persero). Namun lobi investasi tak kunjung menemui titik temu hingga akhirnya Pertamina memutuskan untuk mengembangkan kilang secara mandiri.

Selisih valuasi antara PT Pertamina (Persero) dan Saudi Aramco menjadi kendala kerjasama ini. Nilai awal, investasi diperkirakan bisa mencapai US$ 5,6 miliar atau setara Rp 78,4 triliun dengan asumsi kurs Rp 14.000/US.

Selisih ini sudah ada kemajuan karena semula valuasi nilai yang diajukan adalah US$ 5,6 miliar lalu ditawar oleh Saudi Aramco menjadi US$ 2,8 miliar, ada perbedaan nilai 2 kali lipat. Jika tersisa selisih US$ 1,5 miliar dari valuasi, artinya lobi sudah digenjot ke angka US$ 4,1 miliar.

Ketika kilang Cilacap berhasil di revitalisasi melalui RDMP kapasitas produksi minyak dapat terangkat dari 348.000 bpd menjadi 400.000 bpd.

Merevitalisasi kilang ini membutuhkan ongkos yang tak sedikit. Oleh karena itu membutuhkan investor dalam hal ini ditawarkan pada Aramco. Tak dapat dipungkiri Aramco merupakan target investor strategis yang tepat.

Aramco juga merupakan investor strategis yang memiliki keunggulan lain. Keunggulan lain Aramco yaitu dapat menyediakan pasokan minyak mentah untuk kilang-kilang RI. Inilah keunggulan yang Aramco miliki dan belum tentu investor lain punya.

Kilang lebih berfungsi untuk daya tahan energi Indonesia. Memiliki investor yang sudah dijamin bisa memasok minyak untuk kilang menjadi nilai lebih, sebab risiko untuk mencari minyak di pasar dan ditebengi free rider untuk mengambil untung di impor minyak juga semakin mengecil.

[Gambas:Video CNBC]

(gus)