https://awsimages.detik.net.id/visual/2018/06/07/a2020ea9-a23b-44da-8a1f-73dbedac7260_169.jpeg?w=715&q=90
Foto: CNBC Indonesia/Shalini

Bos Telkom Buka-bukaan Bisa Cetak Laba Rp 18,7 T

by

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) sepanjang 2019 membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp 135,57 triliun, naik 3,7% dibandingkan 2018. Peningkatan ini membuat Telkom Group dapat membukukan laba bersih senilai Rp 18,66 triliun pada 2019.

Perolehan laba ini didukung oleh pesatnya pertumbuhan Digital Business Telkomsel dan IndiHome serta menjadi kontributor utama. Pada segmen Mobile, Telkom melalui entitas anak Telkomsel, tercatat memiliki basis pelanggan terbesar di Indonesia dengan 171,1 juta pelanggan dan pengguna mobile data tercatat sebanyak 110,3 juta pelanggan.

Direktur Utama Telkom Ririek Adriansyah mengatakan perkembangan era digital ikut mendorong kebutuhan layanan data. Hal ini terlihat dari di pertumbuhan trafik data sebesar 53,6% menjadi 6.558 petabyte.


Alhasil, pendapatan Digital Business Telkomsel melesat 23,1% menjadi Rp 58,24 triliun dan tercatat sebagai pertumbuhan tertinggi secara industri pada 2019. Pertumbuhan ini menjadi katalis dalam pergeseran bisnis Legacy ke layanan Digital Business.

Kontribusi pendapatan dari Digital Business pun meningkat menjadi 64% pada 2019, dari 53% pada tahun sebelumnya, seiring dengan pengembangan berbagai Digital Services seperti digital lifestyle, digital ddvertising, big data, digital enterprise solution dan mobile payment. Telkomsel juga berhasil melakukan pengendalian biaya dengan baik, sehingga mampu meningkatkan EBITDA margin menjadi 54,0% dari sebelumnya 53,2%.

"Pencapaian sepanjang 2019 menunjukkan bahwa Telkom berada pada jalur yang tepat untuk menjadi Digital Telecommunication Company dan berkomitmen tinggi dengan memperkuat kapabilitas bisnis digital untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dan memberikan pengalaman digital yang terbaik bagi pelanggan dan masyarakat Indonesia," ungkap Ririek dalam siaran resminya, Rabu (27/05/2020).

Pada 2019, Telkomsel membangun 23.162 Base Tranceiver Station (BTS) 4G LTE baru sehingga pada akhir tahun jangkauan layanan 4G LTE mencapai lebih dari 90% populasi. Sampai dengan akhir lalu Telkomsel memiliki BTS sebanyak 212.235 dengan 161.938 unit di antaranya adalah BTS 3G/4G.

Untuk itu, basis pelanggan data, jumlah dan jangkauan BTS 3G/4G, serta peningkatan lalu lintas data akan menjadi pondasi untuk pertumbuhan positif kinerja Telkomsel di tahun ini.

Selain Telkomsel, Indihome juga menjadi kontributor utama dalam perolehan laba tahun lalu. Pada 2019 IndiHome mencatat kenaikan pendapatan sebesar 28,1% menjadi Rp 18,3 triliun. Jumlah pelanggan IndiHome tumbuh 37,2% jika dibanding akhir 2018 menjadi 7 juta pelanggan.

"Pencapaian ini semakin mengukuhkan IndiHome sebagai market leader bisnis fixed broadband di Indonesia," katanya.

Profitabilitas IndiHome juga semakin baik dengan EBITDA margin mencapai 33,9%, mendekati standar profitabilitas global.

Pada segmen Enterprise, di 2019 Telkom melakukan perubahan kebijakan bisnis dan fokus pada lini bisnis yang memiliki profitabilitas lebih tinggi dan bersifat recurring, terutama pada layanan enterprise solutions seperti enterprise connectivity, data center dan cloud.

Telkom juga secara selektif mengurangi solusi bisnis yang memiliki tingkat margin relatif rendah dan non-recurring. Sepanjang 2019 profil bisnis segmen Enterprise mencatat pendapatan sebesar Rp 18,7 triliun dan memberikan kontribusi sebesar 14% terhadap pendapatan konsolidasian.

Sementara pada segmen Wholesale and International Business pada 2019 menunjukkan kinerja yang cukup baik dan menjadi enabler bagi segmen lainnya. Di segmen ini, Telkom memberikan layanan kepada operator telekomunikasi, internet service provider dan digital player baik domestik maupun global.

Perseroan mencatat pendapatan segmen ini sebesar Rp 10,61 triliun, tumbuh 5,2% dari tahun sebelumnya. Angka ini berkontribusi sebesar 8% terhadap Pendapatan konsolidasian.

Adapun total belanja modal Perseroan pada 2019 tercatat sebesar Rp 36,59 triliun atau 27,0% dari total pendapatan. Belanja modal digunakan untuk meningkatkan kapabilitas digital dengan terus membangun infrastruktur broadband, yang meliputi BTS 4G LTE, jaringan akses serat optik ke rumah, jaringan backbone serat optik bawah laut dan terestrial, serta sebagian juga untuk keperluan bisnis menara.

Sebagai satu-satunya perusahaan Indonesia yang listed di NYSE, Telkom wajib menyusun laporan keuangan barbasis IFRS, dimana pada tahun ini telah mengadopsi standar akuntansi pelaporan keuangan baru yaitu IFRS 16, yang turut mempengaruhi kompleksitas penyusunan Laporan Keuangan Perseroan.

Penyampaian Laporan Keuangan Perseroan masih sesuai dengan ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengacu pada Surat Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Nomor S-92/D.04/2020, tanggal 18 Maret 2020, tentang Relaksasi atas Kewajiban Laporan Keuangan dan Pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham dimana batas waktu Laporan Keuangan tahun buku 2019 adalah 31 Mei 2020, sedangkan batas waktu penyelenggaraan RUPST tahun buku 2019 adalah 31 Agustus 2020.

Telkom melakukan antisipasi terhadap perkembangan industri yang disruptive saat ini melalui pengembangan 3 perspektif domain bisnis digital, yaitu digital connectivity, digital platform, dan digital service. Sebagai sebagai penyedia utama pada layanan broadband di Indonesia, Telkom tetap terus memperkuat posisinya sebagai market leader pada domain digital connectivity melalui layanan berkualitas dan jangkauan terluas.

Layanan konektivitas digital Telkom tersedia melalui jaringan serat optik backbone domestik Indonesia Digital Network yang telah terhubung dari Sabang hingga Merauke serta didukung sistem kabel laut internasional melalui keberadaan kabel laut Indonesia Global Gateway (IGG) milik perseroan.

Kabel tersebut menghubungkan kabel bawah laut SEA-ME-WE5 dengan kabel bawah laut SEA-US menjadikan Perseroan sebagai Global Digital Hub sekaligus gerbang utama konektivitas digital yang menyediakan direct broadband connectivity antara kawasan Eropa, Asia, dan Amerika.

Pertumbuhan mobile broadband di masa mendatang masih berpotensi meningkat cukup besar sejalan dengan semakin tingginya pengguna mobile data. Rata-rata konsumsi mobile data saat ini masih relatif rendah yaitu 5,2 GB per pelanggan per bulan, dibandingkan negara lain seperti Thailand atau India yang masing-masing mencapai 13 GB dan 11 GB per pelanggan per bulan.

Melihat hal tersebut, Perseroan memperkirakan bahwa trafik data akan terus tumbuh signifikan dalam beberapa tahun ke depan seiring semakin beragamnya layanan digital, seperti games, video, advertising dan payment yang masih dalam fase awal pertumbuhan.

Sedangkan untuk fixed broadband mengingat penetrasinya di Indonesia masih cukup rendah yaitu kurang dari 15% dari populasi rumah tangga, Telkom berkeyakinan bahwa permintaan akan layanan IndiHome masih akan tetap tinggi dalam beberapa tahun mendatang untuk memberikan layanan fixed broadband berkualitas tinggi, memenuhi kebutuhan internet sekaligus mendukung aneka layanan digital service yang menarik.

[Gambas:Video CNBC]

(hps/hps)