https://statik.tempo.co/data/2020/05/22/id_940244/940244_720.jpg
Penemuan fosil gajah purba, mammoth, di lahan pembangunan bandara baru Meksiko. Foto: Facebook/Vagando con Mafedien

Sisa-sisa 60 Ekor Gajah Purba Ditemukan di Meksiko

by

TEMPO.CO, Jakarta - Para arkeolog di Meksiko telah menemukan sisa-sisa lusinan gajah purba atau mammoth (mamut) dalam sebuah penemuan yang dapat menjelaskan lebih lanjut tentang metode perburuan komunitas prasejarah. Penemuan itu dilakukan di dekat lokasi pembangunan bandara sipil baru, Bandara Internasional General Felipe Angeles, utara Mexico City.

“Temuan ini memberi arkeolog peluang yang belum pernah ada sebelumnya untuk mempelajari lebih dari 30.000 tahun sejarah," bunyi keterangan Mexico’s National Institute of Anthropology and History, seperti dikutip laman New York Times, Senin, 25 Mei 2020.

Pedro Francisco Sánchez Nava, koordinator lembaga arkeologi itu menerangkan sisa-sisa sekitar 60 mamut sejauh ini ditemukan di tiga area sejak eksplorasi dimulai akhir tahun lalu di lokasi pembangunan bandara, yang sebelumnya ditempati oleh pangkalan udara Santa Lucia. “Salah satu daerah itu adalah garis pantai bekas Danau Xaltocan kuno,” kata Sánchez Nava.

Sebelumnya, kerangka—jantan dewasa dan betina serta anak-anak mamut—ditemukan di daerah dangkal danau dan lebih lengkap daripada yang ditemukan di bagian yang lebih dalam dari bekas perairan. Para peneliti percaya bahwa hewan-hewan itu menjadi target bagi para pemburu.

Para peneliti masih menganalisis tulang untuk melihat berapa banyak yang bisa membentuk kerangka lengkap. "Tidak dikesampingkan bahwa manusia telah mengambil keuntungan dari hewan-hewan berat ini, begitu mereka terjebak di lumpur," ujar dia.

Sekitar 15 penguburan manusia dari periode pra-Hispanik juga ditemukan, dan para arkeolog percaya bahwa mereka adalah petani. Menurut lembaga arkeologi itu, beberapa dimakamkan dengan pot, mangkuk dan patung-patung tanah liat, seperti anjing.

Penggalian Xaltocan terletak sekitar enam mil jauhnya dari situs tempat pembuangan akhir di kota Tultepec, di mana tahun lalu para arkeolog menemukan tulang-tulang sekitar 14 mamut di dua lubang besar yang diyakini telah digali sekitar 15.000 tahun lalu.

Lembaga itu mengumumkan temuan-temuan itu pada bulan November, dengan mengatakan tulang-tulang itu dapat memberi penerangan baru pada kebiasaan berburu masyarakat prasejarah yang mungkin telah memaksa hewan-hewan Pleistosen ke dalam perangkap buatan manusia.

Adam N. Rountrey, manajer koleksi di Museum Paleontologi University of Michigan, Amerika Serikat, mengatakan pada saat itu bahwa temuan di Tultepec cukup menarik. Namun, ia mencatat ada perdebatan tentang apakah situs mammoth itu mewakili binatang buruan atau mati alami.

NEW YORK TIMES | MXICOS NATIONAL ISTITUTE OF ANTHROPOLOGY AND HISTORY