https://www.marketeers.com/wp-content/uploads/2020/05/muri-janji-jiwa.jpeg
Photo Credits: Janji Jiwa

Strategi Janji Jiwa Miliki 800 Gerai dalam Dua Tahun

by

Ekspansi bisnis kedai kopi Janji Jiwa tumbuh agresif di tengah lanskap bisnis kopi yang kompetitif. Didirikan sejak 2018, Janji Jiwa kini telah memiliki lebih dari 800 gerai yang tersebar di 50 kota di Indonesia.

Menurut Billy Kurniawan, Founder and CEO Janji Jiwa, kesuksesan Janji Jiwa bukan sebatas karena tren kopi yang tengah naik daun. Melainkan, diimbangi pula dengan berbagai inisiatif dari sisi brand, product, dan marketing.

“Kopi bersifat addictive, dan ini menjadi keunggulan sekaligus jaminan untuk menggeluti bisnis ini. Kopi juga merupakan salah satu komoditi terbesar di dunia, ini berarti ada demand yang tinggi. Persoalan selanjutnya adalah bagaimana kita mengembangkan produk tersebut,” terang Billy.

Meski persaingan bisnis kopi diakui Billy sangat ketat, namun ia meyakini masih ada kue pasar yang besar. Pebisnis kopi hanya perlu meramu inovasi di segmen pasar yang mereka pilih.

Sebagai contoh, ada pasar dengan konsumen yang tidak menyukai minuman pahit, namun mereka menginginkan kopi. Inovasi produk pun bisa dilakukan dengan menciptakan menu kopi yang variatif dan tidak pahit. Di sisi lain, ada pasar dengan konsumen yang memiliki tingkat health consciousness tinggi. Para pebisnis pun dapat berinovasi menciptakan menu kopi yang menjawab anxiety and desire mereka.

“Ada banyak tren yang bisa diamati oleh pelaku bisnis saat ini. Para pebisnis dapat menciptakan produk-produk yang memperkenalkan secara soft kepada customer jika kopi dapat dinikmati dengan berbagai cara. Produk-produk inovatif ini yang merangkul customer lebih banyak,” jelas Billy.

Bagi Janji Jiwa, memiliki 800 gerai dalam kurun waktu dua tahun bukan perkara mudah. Namun, satu kunci yang pasti; apa yang ditawarkan Janji Jiwa merupakan customer approval.

“Ketika produk kami sudah bisa diterima di berbagai macam daerah di Indonesia, kami telah memiliki gambaran produk yang tepat dan disukai pasar. Customer approval yang membuat kami terus terpacu mengembangkan produk-produk baru,” papar Billy.

The Power of Collaboration

Kesuksesan Janji Jiwa menjual lima juta gelas kopi per bulan didukung oleh strategi marketing yang jitu. Salah satu strategi tersebut dilakukan melalui kolaborasi. Janji Jiwa bekerja sama dengan deretan brand besar untuk meningkatkan exposure di pasar.

Janji Jiwa menggandeng brand dari sektor Food and Beverage (F&B), seperti MILO, Oreo, Sasa, hingga brand kecantikan, Benefit. Tidak hanya itu, Janji Jiwa juga berkolaborasi dengan tokoh komik, Gundala.

Bentuk kolaborasi yang dilakukan beragam, mulai dari peluncuran special menu, hingga menjadi official coffee partner seperti dalam film Gundala.

Berbagai inisiatif ini diimbangi dengan strategi marketing lain. Salah satu platfotm yang digunakan Janji Jiwa adalah Instagram.

“Kami menjadikan Instagram sebagai tempat melakukan data gathering. Dari sini, kami dapat melihat demografi pengikut Janji Jiwa yang didominasi perempuan (63%), diikuti dengan laki-laki (37%). Hal ini kami lakukan untuk membuat marketing campaign yang sesuai dengan target, dan didukung pula oleh partner-partner kami,” papar Billy.