https://media.tabloidbintang.com/files/thumb/0d611666fbf82814851b53752556b1a0.jpg/745
Gula kini disebut lebih jahat daripada lemak. (Depositphotos)

Dianggap Lebih Jahat Dari Lemak, Ini 5 Langkah Mengurangi Konsumsi Gula

by

TABLOIDBINTANG.COM - Anda diet rendah lemak untuk menurunkan berat badan atau menyehatkan badan? Pertimbangkan lagi. Gula kini disebut lebih jahat daripada lemak. Bertahun-tahun kita disesatkan kepentingan industri, bahwa lemak biang keladi berbagai penyakit degeneratif. Asosiasi Gula AS menyogok peneliti Harvard pada era 1960-an untuk memutus kaitan antara gula dan penyakit jantung.

Hasil penelitian delapan tahun terhadap 50 ribu partisipan wanita, yang dibukukan dalam The Journal of the American Medical Association pada 2006, diet rendah lemak dan jenis diet umum lainnya tidak mengurangi risiko kanker payudara, kanker usus besar, dan penyakit jantung. Studi-studi setelahnya menunjukkan, gula berlebihan dalam dietlah yang berkontribusi pada penyakit jantung, diabetes, peningkatan trigliserida, pertambahan berat badan, dan malnutrisi. Gula juga menyebabkan gangguan pada aktivitas sehari-hari, seperti mudah lelah dan marah. Sekolah Medis Keck Universitas California Selatan menambahkan, kebanyakan konsumsi gula melemahkan kemampuan mengingat dan berpikir.

Beberapa tahun lalu Badan Pengawas Obat dan Makanan AS mensyaratkan produsen makanan dan minuman untuk menegaskan kadar gula pada kemasan. Ini ditindaklanjuti beberapa produsen dengan menurunkan kadar gula dalam produk mereka, seperti Nestlé yang akan merilis kembali cokelat Kit Kat, Yorkie, dan Aero dengan gula berkurang 40 persen.

Asosiasi Jantung AS menyarankan konsumsi gula untuk perempuan tidak lebih dari 25 gram per hari dan laki-laki maksimal 37,5 gram per hari. Artinya, singkirkan minuman bersoda, beralkohol, cake, dan es krim. Jangan salah, semangkuk acai bowl yang trendi itu mengandung 50 gram gula! Lima langkah ini akan membantu Anda mengurangi konsumsi gula secara bertahap:

https://media.tabloidbintang.com/files/thumb/gula_depositphotos_74119313_original.jpg/745
(Depositphotos)

1. Kenali nama lain gula

Perhatikan kemasan produk, gula sering dicantumkan dengan nama lain. Seperti sirup jagung tinggi fruktosa, molasses, sukrosa (atau kata lain dengan akhiran –osa), madu, dan sirup maple. Yoghurt dan sereal mungkin saja mengandung 3 atau 4 tipe pemanis.

2. Tambahkan rasa alami

Gunakan biji vanili atau ekstrak vanili, rempah, atau parutan kulit lemon atau jeruk sebagai pemanis makanan alami. Pesan kopi latte, beri tambahan rasa kayu manis atau ekstrak vanili. Beli oatmeal, bubuhkan kayu manis, jahe, dan pala. Kayu manis membantu mengatur level gula dan mengontrol selera makan.

3. Kombinasi lemak tak jenuh, protein, dan serat

Karbohidrat yang padat gula meningkatkan gula darah dengan cepat (dan menurunkannya dengan cepat, membuat kita lapar dan menginginkan gula lagi). Padukan juga protein, lemak tak jenuh, dan serat ke dalam makanan, yang akan memperlambat pelepasan gula darah di dalam tubuh dan mengenyangkan lebih lama. Fokus ke lemak tak jenuh seperti avokad, kacang-kacangan, dan biji- bijian.

4. Mengurangi sedikit demi sedikit

Terbiasa dengan dua sachet gula ke dalam kopi, tuangkan satu saja selama seminggu, kemudian setengah pada minggu berikutnya, dan akhirnya cukup tambahkan sedikit susu. Untuk yoghurt, campur separuh yoghurt manis dan tawar, dan akhirnya Anda terbiasa dengan manisnya buah segar sebagai tambahan untuk yoghurt tawar.

5. Masih boleh menikmati kudapan manis, asal...

Hindari gula misalnya dalam makanan berkarbohidrat atau aneka saus. Tetapkan waktu untuk menikmati kudapan seperti cake, misalnya hanya setelah makan malam di akhir pekan atau di acara khusus. Jika disiplin, niscaya indra pengecap Anda akan menyesuaikan. Es krim dan permen akan terasa sangat manis, beberapa potong kecil cake sudah cukup. Anda juga akan terbiasa dengan rasa manis alami buah dan sayuran.