https://awsimages.detik.net.id/visual/2018/01/22/d401adcf-2672-4530-b6fc-c34b354c9da7_169.png?w=715&q=90
Foto: Reuters

China Beralih ke London, Emang Bisa Kalahin Wall Street?

by

Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan-perusahaan China berencana membidik London Stock Exchange (LSE), Inggris, sebagai tempat mencatatkan saham perdana (initial public offering/IPO) atau menjual sertifikat penyimpanan global (global depository receipts/GDR) setelah konflik memanas dengan Amerika Serikat (AS) yang berimbas pada potensi terdepaknya emiten China di Wall Street.

Senat AS atau DPD-nya AS pekan lalu sudah meloloskan RUU di bidang pasar modal yakni "Holding Foreign Companies Accountable Act" atau RUU Akuntabilitas Perusahaan Asing yang digulirkan pada Rabu (20/5/2020) waktu AS. Jika RUU ini disahkan maka akan menjadi ancaman bagi perusahaan China yang melantai di bursa saham AS.

Berdasarkan data America Depository Receipt, ada 137 perusahaan China yang tercatat di bursa saham AS, di antara perusahaan-perusahaan tersebut terdapat nama-nama perusahaan raksasa dunia seperti, Alibaba Group Holding Ltd., Baidu Inc, CNOOC, Hutchinson China Mediatech dan sejumlah nama-nama besar lainnya.

Sumber South China Morning Post (SCMP) mengungkapkan di tengah konflik AS-China ini, dalam program investasi lintas-batas yang mulai digulirkan China, Beijing akan melanjutkan penyortiran perusahaan-perusahaan yang ingin IPO atau pun menjual sertifikat GDR di LSE melalui hubungan kemitraan dengan Bursa Shanghai.

Investopedia menjelaskan, GDR adalah semacam jenis sertifikat bank (berharga) yang mewakili saham di perusahaan asing, sehingga cabang asing dari bank internasional bisa memegang saham tersebut. Saham itu sendiri diperdagangkan sebagai saham domestik, tetapi, secara global bisa untuk diperjualbelikan.

Pemerintah China akan melakukan tinjauan calon emiten (perusahaan publik) dengan melihat kembali dokumen (prospektus) yang sudah dipublikasikan sebelumnya dan kemudian ditunda, dan dokumen sebelumnya yang sempat tidak diberikan persetujuan oleh regulator.


Para pengambil kebijakan di China mulai melunakkan sikap mereka terhadap Shanghai-London Stock Connect, kemitraan yang dimulai sejak Juni 2019 dan hampir setop karena reaksi Inggris terhadap protes anti-pemerintah di Hong Kong.

Perubahan China yang melirik lagi London terjadi ketika Washington mencoba meminta pertanggungjawaban Beijing atas pecahnya pandemi Covid-19 secara global dan kini AS mulai memberikan 'hukuman' melalui pasar keuangannya.

Presiden AS Donald Trump juga melarang dana pensiun federal untuk berinvestasi di perusahaan-perusahaan China pada pekan lalu. Bursa Nasdaq juga dilaporkan akan mengeluarkan aturan baru yang akan mempersulit perusahaan-perusahaan Cina untuk melantai atau IPO di bursa Wall Street, termasuk Nasdaq dan New York Stock Exchange (NYSE).

"Mengizinkan perusahaan China untuk menjual saham di London dapat dipandang sebagai isyarat China untuk membuka pasar modalnya," kata Wu Kan, manajer investasi di Soochow Securities di Shanghai, dikutip SCMP, Selasa (26/5/2020).

"Tapi London [LME] tertinggal dari [Bursa Efek] New York dan Nasdaq dalam ukuran, likuiditas dan kenyamanan dalam perdagangan. Jadi masih harus dilihat apakah strateginya akan berhasil."

Selain itu, hanya segelintir perusahaan China yang saat ini berdagang di LSE, mulai dari perusahaan kimia G3 Exploration yang tidak banyak diketahui, China New Energy hingga Huatai Securities, yang pertama menjual GDR melalui kemitraan Shanghai-London Connect.

Di sisi lain, Nasdaq dan NYSE adalah rumah bagi 196 perusahaan China, termasuk raksasa teknologi JD.com, Baidu dan induk perusahaan China Morning Post, Alibaba Group Holding.

Sementara Inggris adalah pasar saham terbesar kelima di dunia, dengan kapitalisasi pasar US$ 2,4 triliun, AS adalah yang terbesar, dengan kapitalisasi US$ 30,3 triliun.

https://awsimages.detik.net.id/community/media/visual/2020/03/17/18df16c3-774b-4880-a2de-f430ef038762_169.jpeg?w=620
Foto: Studio Nasdaq, yang menampilkan indeks dan stok turun, di Times Square, New York, Senin, 16 Maret 2020. (Foto AP / Seth Wenig)AP/Seth Wenig

Di antara pasar-pasar saham terbesar itu ada bursa China, Jepang dan Hong Kong. Upaya 'melarang' perusahaan China mencari permodalan di bursa AS dinilai memang akan menjadi kemunduran bagi perusahaan-perusahaan China, khususnya perusahaan-perusahaan berteknologi tinggi, yang telah mengandalkan bursa New York untuk penggalangan dana yang lebih mudah dan cepat.

Di sisi lain, GDR berdenominasi dolar AS dari Huatai Securities, broker kelas menengah dari kota timur Nanjing, telah naik 22% sejak listing di London pada Juni 2019, mengalahkan perdagangan saham yang menjadi aset dasarnya (underlying) di Bursa Shanghai dan Hong Kong pada periode tersebut. Hanya saja minat perdagangan saham di LME atas perusahaan China tetap rendah di antara para investor Inggris.

SMCP mencatat, sekitar 150.000 surat berharga telah berpindah tangan rata-rata setiap hari sejak debut mereka di London, baru menyamai sekitar 2% dari volume harian saham berdenominasi yuan di Bursa Shanghai.

Shanghai-London Stock Connect berkembang melambat sejak awal. Sementara Huatai Securities adalah satu-satunya saham yang dapat diakses oleh investor London, mengingat jaringan yang memungkinkan investor China utuk membeli saham yang terdaftar di London belum dibuka. China Pacific Insurance dan SDIC Power Holdings, yang seharusnya mengikuti Huatai Securities dalam menawarkan GDR, membatalkan rencana mereka dengan alasan kondisi pasar.

Sebaliknya, koneksi perdagangan saham antara Shanghai dan Hong Kong telah semakin populer sejak dimulai pada tahun 2014, dan telah menjadi jalan utama bagi para investor asing yang berinvestasi di ekonomi China yang sedang berkembang.

"Hampir tidak ada perusahaan teknologi tinggi Cina yang terdaftar di London untuk menarik minat investor lokal. Sebagian besar bergerak dalam industri tradisional," kata Wang Zheng, Kepala Investasi di Jingxi Investment Management di Shanghai.

"Di sisi lain, perusahaan teknologi tinggi China lebih bersedia untuk pergi ke AS, di mana mereka bisa dapat valuasi lebih tinggi."

[Gambas:Video CNBC]

(tas/sef)