https://awsimages.detik.net.id/visual/2020/04/16/2e5e42ac-4c99-414c-92f5-14d4bc17a843_169.jpeg?w=715&q=90
Foto: cover topik/dunia berlomba mencari vaksin virus corona dalam/Aristya Rahadian Krisabella

Berlomba Temukan Vaksin Corona, China Paling Depan

by

Jakarta, CNBC Indonesia - Semenjak virus corona (Covid-19) menjangkit seluruh dunia, banyak negara berlomba-lomba menjadi pahlawan dalam menemukan vaksin penawar virus ini. Setidaknya ada 11 kandidat lembaga kesehatan dari berbagai negara yang tengah mengembangkan vaksin tersebut, seperti China, Amerika Serikat, dan Inggris.

Perlu diketahui, sebelum vaksin tersebut digunakan masyarakat luas, masing-masing vaksin harus melewati 3 fase pengujian yang ditetapkan oleh World Health Organization (WHO). Fase 1 adalah pengujian keamanan vaksin, menentukan dosis, dan mengidentifikasi potensi efek samping vaksin pada sejumlah kecil orang. Pada fase 2, vaksin akan dieksplorasi lebih lanjut keamanannya, serta mulai diuji coba pada kelompok yang lebih besar.

Sementara itu pada fase 3, vaksin akan diuji coba pada ribuan atau puluhan ribu orang guna mengkonfirmasi dan menilai efektivitas vaksin, juga guna menguji apakah ada efek samping yang terjadi. Namun hingga saat ini belum ada vaksin yang berhasil masuk fase ini, terjauh baru berada di fase 2.


Berikut adalah daftar vaksin yang berada dalam uji coba fase 1, 2, dan mereka yang akan masuk fase 1.

Fase 2
Dari sejumlah negara lainnya, China merupakan negara yang paling berhasil mengembangkan vaksin dibanding Amerika Serikat dan Inggris. Pasalnya, dari 2 vaksin yang berhasil masuk fase 2, semuanya merupakan kandidat asal China.

'Viral Vektor Vaccine' milik CanSino Biologics Inc. asal China
Vaksin ini merupakan satu-satunya vaksin yang menggunakan viral vektor atau vektor virus yang tak bereplikasi (semacam alat transportasi molekuler), yang berfungsi membawa antigen vaksin ke dalam sel manusia. Sebagai catatan, viral vektor ini pernah digunakan sebelumnya dalam menemukan vaksin virus ebola.

Tak sendiri, CanSino turut menggandeng Bioteknologi dari Akademi Ilmu Kedokteran Militer dalam mengembangkan vaksin ini. Rencananya, di fase ini, CanSino akan menguji coba vaksin kepada 108 orang di Rumah Sakit Tongji, Wuhan.

'Inactivated Vaccine' milik Institut Produk Biologi Wuhan asal China
Vaksin ini berhasil masuk ke fase 2 setelah berhasil menguji vaksin kepada 96 orang dalam tiga kelompok umur yang berbeda pada 23 April lalu. Sebagai informasi, institut ini dikelola oleh Sinopharm Gorup milik pemerintah China.

Fase 1/Fase 2
'MRNA Vaccine' milik BioNTech asal Jerman
Dalam mengembangkan vaksin, BioNTech bekerja sama dengan Pfizer. Virus ini baru saja mulai menguji vaksin pada manusia.

'Viral Vector Vaccine' milik Universitas Oxford asal Inggris
Vaksin ini mulai diuji secara klinis pada manusia setelah sebelumnya berhasil diuji pada kera di laboratorium Public Health England (PHE), Inggris. Dalam pengujian tersebut, kera yang telah disuntik dengan vaksin terbukti tidak terinfeksi virus.

'Inactivated Vaccine' milik Institut Produk Biologis Beijing asal China
Seperti Institut Produk Biologi Wuhan, institut ini juga milik Sinopharm Group. Adapun saat ini vaksin sedang diteliti lebih lanjut oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China.

Fase 1
'MRNA Vaccine' milik Moderna Inc. asal Amerika Serikat (AS)
Pengembangan vaksin ini didanai oleh Institut Nasional Penyakit Alergi dan Penyakit Menular (NIAID), AS. Saat ini vaksin tengah diuji pada sukarelawan di Institut Riset Kesehatan Washington Kaiser Permanente, Seattle. Moderna mengklaim, vaksin pengembangannya akan masuk ke fase 2 dalam beberapa bulan ke depan. Sebelumnya, vaksin ini dikabarkan tidak efektif menyembuhkan Covid-19 oleh para ahli vaksin. Akibat berita tersebut, saham Moderna sempat turun 10,4% menjadi US$ 71,67.

'DNA Vaccine' milik Inovio Pharmaceuticals Inc. asal AS
Vaksin ini sudah mulai diuji coba kepada manusia sejak April lalu. Sebagai tambahan, pengembangan vaksin ini didukung oleh Koalisi Inovasi Kesiapsiagaan Epidemi (CEPI), yakni penyandang dana global terkemuka untuk pengembangan vaksin. Salah satu pendananya adalah miliarder dunia Bill Gates.

'LV-SMENP-DC and aAPC Vaccine' milik Institut Shenzhen Geno-Immune Medical asal China
Meskipun belum masuk dalam list WHO, Insititut Shenzhen Geno-Immune Medical sudah mengembangkan dua vaksin bernama LV-SMENP-DC dan aAPC. Kedua vaksin potensial ini bekerja dengan menggunakan lentivirus (termasuk keluarga virus HIV) untuk mengangkut DNA dari virus corona (Covid-19) ke dalam tubuh, guna memicu respons kekebalan.

'Inactivated Vaccine' milik Sinovac Biotech asal China
Sejauh ini, vaksin telah diuji kepada kelompok primata, seperti kera rhesus. Hasilnya, vaksin ini berhasil melindungi kera dari tertular virus.

Kandidat yang akan mulai masuk Fase 1
'Subunit Vaccine' milik Novavax asal AS
Vaksin ini menggunakan teknologi nanopartikel untuk menghasilkan antigen dari protein yang ditemukan pada kulit luar virus corona (Covid-19). Vaksin ini sedang diuji pada hewan, dan diharapkan akan masuk fase 1 dalam satu atau dua bulan mendatang.

'Protein Subunit Vaccine' milik Universitas Queensland asal Australia
Para peneliti dari Universitas Queensland menggunakan teknik pengembangan vaksin yang dipatenkan, yang disebut 'penjepit molekuler'. Mereka pertama kali membuat versi sintetis dari struktur spike protein virus corona (Covid-19), lantaran hal ini dapat memicu respons kekebalan dalam tubuh manusia.

Setelahnya, peneliti menempelkan 'penjepit molekuler' tadi pada protein sintetis untuk memastikan kestabilan dalam memicu antibodi. Vaksin ini ditargetkan akan mulai diuji coba kepada manusia pada bulan Juli nantinya.

[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)