https://cdn1.katadata.co.id/media/images/thumb/2020/01/28/2020_01_28-09_22_06_65fa63d7322323b639f82c71b06b6caf_960x640_thumb.jpg
Ilustrasi, pedagang sayuran di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Senin (27/1/2020). Kementerian Pertanian menyebut pasokan hasil pertanian dan sayuran segar meningkat sehingga pemerintah berharap ada upaya peningkatan ekspor komoditas tersebut.ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

Pasokan Melimpah, Kementan Ingin Tingkatkan Ekspor Sayuran Segar

Meski pasokan hasil pertanian melimpah, Kementan mencatat bawang putih dan kentang industri tetap diimpor karena kebutuhannya tinggi.

by

Kementerian Pertanian menyatakan produksi pertanian dan sayuran segar dalam negeri sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di tengah pandemi corona. Kementan pun berencana meningkatkan ekspor komoditas pangan tersebut.

Direktur Jenderal Hortikultura Kementan Prihasto Setyanto menyatakan pemerintah memang berupaya meningkatkan ekspor beberapa komoditas pertanian dan sayuran segar. Apalagi pasokan beberapa jenis sayuran segar seperti selada, bayam, kangkung, kubis, dan wortel sangat melimpah.

"Dalam masa pandemi, kita lihat sendiri, petani sampai kesulitan menjualnya karena produksi melimpah," tulis Prihasto dalam keterangan resminya, Jakarta, Senin (25/5).

Kementan pun terus membantu petani dalam memasarkan dan mendistribusikan hasil panen. Dirinya pun berharap momen pandemi dapat menjadi momentum agar masyarakat lebih mencintai produk pertanian dalam negeri. Sehingga dapat menolong perekonomian petani.

(Baca: Komisioner KIP : Negara Harus Siapkan Dana yang Cukup untuk Pertanian)

Meski begitu, Prihasto menyebut impor bawang putih dan kentang industri terus berjalan meski hasil pertanian meningkat. Sebab, kebutuhan komoditas tersebut cukup banyak.

"Nyatanya kita memang masih butuh pasokan besar," ujarnya.

Menurut dia, bawang putih belum tumbuh optimal di Tanah Air. Sedangkan, komoditas ini tumbuh subur di daerah sub tropis seperti Tiongkok.

Produksi bawang putih nasional naik dari 49 ribu ton menjadi 88 ribu ton. Meski begitu, jumlahnya masih belum dapat memenuhi kebutuhan nasional yang mencapai 580 ribu ton per tahun.

Untuk diketahui, volume impor bawang putih mencapai 38,62% dari total nilai impor seluruh jenis sayuran. Disusul kentang olahan industri, bawang bombai, dan cabai kering.

Pasalnya, kentang olahan industri memang berbeda dengan jenis kentang sayur atau granola. Untuk jenis granola, Indonesia sudah bisa mengekspor komoditas tersebut.

"Jadi impor sayuran hanya pada komoditas sayur yang produksi kita masih rendah," katanya.

(Baca: Pasca-Pandemi, Pembangunan Sektor Pertanian Wajib Jadi Perhatian Utama)

Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan Kuntoro Boga Andri menegaskan kondisi neraca perdagangan pertanian saat ini masih positif bila berbasis data Badan Pusat Statistik. “Perdagangan internasional merupakan hal yang wajar, karena tiap negara punya keunggulan komparatif dan kondisi agroekologi wilayah dan iklim yang spesifik”, ujar Kuntoro.

Bila melihat nilainya, neraca perdagangan komoditas pertanian dengan Tiongkok pada 2019 mengalami surplus US$ 1,87 miliar. Ini terjadi karena nilai ekspor pertanian Indonesia tercatat US$ 3,89 miliar, sedangkan nilai impornya lebih rendah yakni US$ 2,02 miliar.

Sedangkan pada periode Januari-Maret 2020, Indonesia sudah mengalami surplus US$ 64 Juta dari Tiongkok untuk komoditas pertanian. Jika dilihat dari volumenya, neraca perdagangan komoditas pertanian Tiongkok 2019 tercatat sebesar 5,77 ton, naik 49.86% dibanding 2018.

Bahkan, khusus sektor hortikultura neracanya tumbuh positif hingga 8,25% "Ini merupakan dampak positif penguatan produksi dalam negeri dan membuka akses pasar ekspor yang dilakukan pemerintah," kata dia.

(Baca: Merauke Lumbung Pangan Papua Kejar Tanam Padi)

Video Pilihan