https://cdn1.katadata.co.id/media/images/thumb/2020/05/22/2020_05_22-21_42_10_98fe5762b2c29d0692a85f2f70afbd3f_960x640_thumb.jpg
Presiden Xi Jinping berjalan melewati para pejabat yang menggunakan masker ditengah wabah penyakit virus corona (Covid-19) saat tiba untuk sidang pembuka Konferensi Permusyawaratan Kongres Rakyat Nasional (KRN) di Balai Agung Rakyat di Beijing, Jumat (22/5/2020).ANTARA FOTO/REUTERS/Carlos Garcia Rawlins/wsj/dj

Efek Pandemi Tak Pasti, Tiongkok Hapus Target Pertumbuhan Ekonomi 2020

Presiden Tiongkok Xi Jinping mewaspadai risiko utang yang disebabkan oleh kebijakan stimulus secara besar-besaran.

by

SOROT : Krisis Virus Corona

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Pemerintah Tiongkok menghilangkan target pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) pada 2020 dalam laporan kerja tahunannya. Sebab, masih ada ketidakpastian akibat pandemi corona.

Pengumuman tersebut dilontarkan oleh Presiden Tiongkok Xi Jinping pada awal pertemuan tahunan parlemen. "Jika epidemi tidak terjadi, dalam keadaan umum, target pertumbuhan PDB akan ditetapkan sekitar 6%," kata Xi seperti dikutip dari Reuters, Senin (25/5).

Lebih lanjut Xi menyatakan jika pemerintahnya menetapkan target ekonomi, Tiongkok harus banyak mengeluarkan stimulus yang kuat. Dengan begitu, target ekonomi bisa tercapai.

Sedangkan Tiongkok enggan memberikan stimulus ekonomi berupa kredit mudah. Sebab, negara tersebut telah mengalami perlambatan ekonomi sebelum pandemi corona.

Selain itu, Tiongkok mewaspadai risiko utang yang disebabkan oleh kebijakan stimulus secara besar-besaran. "Ini tak sejalan dengan tujuan pembangunan ekonomi dan sosial Tiongkok," ujar Xi.

(Baca: Perusahaan Tiongkok Sebut Vaksin Buatannya Ampuh Tangkal Corona)

Dalam laporannya, pemerintah Tiongkok mengumumkan serangkaian tindakan fiskal untuk meningkatkan ekonomi yang setara dengan sekitar 4,1% dari PDB Tiongkok. Sebab, ekonomi negara Panda tersebut anjlok hingga 6,8% pada kuartal pertama tahun ini.

Penurunan ekonomi tersebut merupakan kontraksi pertama sejak akhir revolusi kebudayaan pada 1976. Kondisi itu mencerminkan kerusakan ekonomi akibat pandemi corona.

Selama tiga bulan pertama tahun ini, Tiongkok menghadapi penutupan atau lockdown besar-besaran karena penyebaran virus corona. Negara tersebut pun tengah berjuang untuk memulai aktivitas seperti sebelumnya.

Dikutip dari South China Morning Post, data baru yang dirilis oleh Badan Statistik Nasional Tiongkok menunjukkan ekonomi Tiongkok pada MAret 2020 tetap di bawah tekanan besar. Sektor industri, ritel, dan investasi aset tetap menyusut, turun dramatis selama dua bulan pertama tahun ini.

Hasil produksi industri yang mengukur manufaktur, pertambangan, dan utilitas juga turun 1,1% pada Maret 2020, setelah turun 13,5% pada Januari dan Februari tahun ini. Di sisi lain, manufaktur tercatat turun 0,2% yang menunjukkan adanya hambatan meski pabrik mulai dibuka kembali.

Penjualan ritel, ukuran utama konsumsi di negara tersebut, juga turun 15,8%. Jumlah tersebut menyusul rekor kejatuhan penjualan ritel pada dua bulan pertama tahun ini sebesar 20,5%. Realisasi tersebut lebih buruk daripada prediksi yang hanya turun sebesar 10%.

Investasi aset tetap, ukuran pengeluaran selama tahun ini untuk barang-barang termasuk infrastruktur, properti, mesin dan peralatan, turun 16,1% selama tiga bulan pertama. Pada Januari-Februari 2020, sektor tersebut berada di level terendah sepanjang masa yakni minus 20,5 persen.

(Baca: Hubungan Merenggang, Trump Tolak Renegosasi Dagang dengan Tiongkok)

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Video Pilihan