https://beritajatim.com/wp-content/uploads/2020/04/depen1.jpg
Mobil yang digunakan oleh Dinas Kesehatan Rakyat untuk melakukan penerangan atau propaganda mengenai masalah kesehatan dan penyembuhan penyakit. Mobil ini diduga telah ada dan berfungsi sejak tahun 1920-an awal mengingat kendaraan-kendaraan dinas untuk pemerintah kolonial baru banyak dilakukan pada awal tahun 1920. Tugas personil yang ditempatkan pada kendaraan ini adalah mengunjungi pusat-pusat pemukiman dan keramaian masyarakat untuk kemudian melakukan penyiaran dengan pengeras suara. Isi penyiaran itu adalah informasi tentang pencegahan penyakit dan penanggulangan terhadap gejala awal penyakit yang melanda penduduk. Repro: buku yang ter;lupakan Pandemi Influenza 1918 (Flu-Spanyol)

Bencana Setiap 100 Tahunan dan New Normal

by

Saya agak terkejut ketika ada sebagian orang tak tahu ada flu spanyol 1918. Sebagian tahu, tapi tak tahu mendetail. Sebagian lagi tahu atau pernah mendengar, tapi tak tahu bahwa flu itu tidak berasal dari Spanyol.

Hanya karena media masalah nama itu disematkan. Ada juga yang tidak tahu bahwa pandemi ini juga melanda wilayah Hindia Belanda, cikal bakal Indonesia hari ini.

Pandemi influenza Covid-19 yang hari ini melanda seluruh kolong langit dan manusia yang hidup di dalamnya, rupanya juga sudah terjadi seratus tahun silam. Seperti ada siklus yang berulang.

Saya membaca dan menelusuri lebih lanjut. Rupanya siklus itu tidak hanya terjadi dalam dua abad terakhir. Jika kita meluaskan pandemi dalam arti luas, mengubahnya dalam pengertian bencana bagi manusia, siklus itu ternyata juga terjadi seratus tahun sebelumnya. Salah satu wilayah Hindia Belanda kala itu, justru menjadi episentrumnya.

Apa itu? Letusan Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, NTB yang sekarang kita kenal.

Jika dibuat sekuens bencana itu ke belakang, maka urutannya menjadi begini: (1) Pandemi Covid-19 2020, (2) pandemi flu spanyol 1918, (3) letusan Tambora 1815.

Mengapa Tambora penting dimasukkan dalam sekuens ini? Karena letusan gunung itu juga menimbulkan penderitaan yang panjang dalam jangkauan yang amat luas. Menimbulkan kekacauan pada rantai pasok makanan. Mengakibatkan kelumpuhan mobilitas manusia. Polanya sama dan sebangun dengan bencana virus influenza dua abad terakhir. Orang-orang dipaksa atau terpaksa tidak bisa ke mana-mana. Terkunci. Terlokdon.

Kita tahu tiap hari ada saja gunung meletus. Apalagi kita yang tinggal di Indonesia. Ibarat kata, orang Indonesia itu seperti duduk di atas lempeng api bumi yang membentuk cincin. Karenanya bentangan ini juga disebut “Ring of Fire”.

Tapi dalam sejarah letusan gunung api yang bisa diingat atau dicatat manusia, Tamboralah salah satu yang terbesar. Ada juga sih yang lain, seperti letusan Yellowstone di AS, atau Gunung Thera-Santorini di Yunani, atau Vesuvius di Italia. Atau kalau mau disebut, Deccan Plateau di India. Tapi dari sisi tarikh waktu kejadiannya, hanya Tambora yang paling dekat dengan ingatan manusia yang terbilang sangat pendek.

Yang disebut terakhir, Deccan Plateau, terbentuk dari letusan dahsyat 60 juta tahun lalu. Yellowstone njebluk 640 ribu tahun lampau. Sementara Gunung Thera yang kemudian membentuk pemandangan alam indah di Santorini, terjadi 1500 tahun sebelum Masehi. Sedang Gunung Vesuvius meletus di awal-awal pemerintahan Romawi –yang kini jadi Italia itu—tahun 79 Masehi. Ada juga Toba, tapi itupun umur geologinya juga panjang di belakang ingatan kita.

Dari sudut kerangka waktu manusia, letusan gunung-gunung itu kecuali Tambora jaraknya terlampau jauh dan sulit untuk dibayangkan. Secara psikis, ingatan kita sangat pendek. Wong kemarin kita makan apa saja kadang sudah lupa, kok. Opor atau sambal goreng? Opornya ayam atau telor? Ayamnya dibeli di pasar atau supermarket, mungkin kita sudah lupa. Atau tak tahu. Yang baru kemarin sudah lupa. Apalagi yang terjadi ribuan tahun, puluhan ribu, atau bahkan juta tahun silam.

Ilmu pengetahuanlah dan geolog-geolog yang tekunlah yang membantu kita memahamkannya dalam cara berpikir kita sebagai manusia yang awam. Sejarawanlah yang menelisiknya lewat ratusan atau ribuan dokumen dan buku-buku. Atau arkeolog yang menyibaknya dari tanah-tanah yang kasat oleh mata kita.

Ketika peringatan 200 tahun letusan Gunung Tambora 2015 lalu, saya berkesempatan mendekati bentukan alam yang terbentuk dari letusan gunung itu. Dengan sepeda. Merayapi pesisir pantai dari Pulau Lombok menuju Sumbawa, pemandangannya elok semata. Beruntung juga, sebelum mengayuh sepeda, saya baca-baca sikit tentang Tambora ini.

Ketika sudah memasuki kawasan puncak, melewati tanjakan yang tak habis-habis, saya masih belum bisa mengimajinasikan bagaimana kira-kira kehidupan wilayah itu sebelum gunung itu meletus. Yang saya lihat hanyalah hamparan bukit-bukit luas savana, dengan rumput ilalang menghijau sepanjang mata memandang.

Di kanan bukit menghijau, di kiri lautan lepas membiru. Vegetasi pohonnya minim. Padahal itu dataran tinggi. Ada gugusan bukit yang disebut Bukit Teletubies, karena mirip bukit-bukit yang kita lihat dalam cerita kawanan boneka bernama Dipsi, Laa-la, Po, dan Tinky Winky itu.

Gunung Tambora sebelum meletus, memiliki ketinggian sekitar 4.300 m di atas permukaan laut. Begitu njebluk, dhuaaarrrrr…. gundukannya terpangkas tinggal separuhnya dari badan sampai kaki dataran. Yang di bagian paling atas muncrat didorong tenaga dari perut bumi. Melayang-layang hingga 35-45 km ke udara, tembus sampai ke stratosfer.

Sebagai bayangan, kalau kita naik pesawat terbang, ketinggiannya paling mentok di sekitar 30-40 ribu kaki atau sekitar 10 km. Ini tiga empat kali lipat.

Puluhan juta meter kubik material yang tersembur ke atas, menimbulkan efek seperti cendawan atau payung raksasa yang melingkupi hampir seluruh permukaan bumi. Dengan ketinggian payung debu sekitar 40 km, dengan bobot material teringan yang hanya beberapa gram, dengan kekuatan gravitasi, bisa dibayangkan berapa lama debu-debu dan material itu jatuh kembali ke bumi. Yang bebatuan ya mungkin dalam jam atau hari mendarat kembali di bumi. Itupun entah di mana. Kerikil mungkin dalam hari atau minggu. Tapi debu-debu, berbulan-bulan melayang di permukaan bumi.

Efek letusan ini memang sungguh dahsyat. Gara-gara bumi dan lapisan bumi tertutup awan, debu, dan pasir material, bumi mengalami perubahan iklim yang amat drastis. Mengapa? Karena matahari tidak nongol sampai berbulan-bulan. Sembunyi di balik awan. Hujan turun tak henti-henti. Kayak singkatan nama bulan: Januari. Hujan saban hari.

Lalu, apa hubungan letusan ini dengan pandemi? Pada rantai pasokan makanan, pada mobilitas atau pergerakan orang, tentu saja. Ketiadaan matahari selama berbulan-bulan, menyebabkan tanaman-tanaman mati. Orang-orang yang tinggal di kawasan empat musim, menyebut tahun itu sebagai “Tahun tanpa musim panas”, The year without a summer. Bahan makanan langka. Rumput-rumput mati.

Orang-orang Eropa, yang punya cara mendokumentasikan suatu kejadian atau peristiwa secara baik, mengungkapkan bahwa manusia zaman itu harus berebut makan dengan binatang, terutama binatang ternak. Akibatnya, kuda-kuda mati bergelimpangan.

Transportasi utama –kereta yang mengandalkan kuda- lumpuh dan lenyap dari jalanan. Tidak hanya puluh atau ratus ribu, jutaan kereta kehilangan tenaga penggerak. Mobilitas manusia terhenti.

Ada seorang perempuan, Mary Shelley, terjebak dalam sebuah villa di Danau Geneva, Swiss dalam kondisi tanpa matahari, tanpa udara hangat. Berhari-hari, berpekan-pekan.

Suasana itu sangat mencekam dalam alam berpikir dan imajinasinya. Apalagi, ia terjebak di rumah itu bersama suaminya yang seorang penyair, dan teman dari penyair yang namanya juga kondang, Lord Byron. Tiap hari yang mereka obrolkan dan percakapkan, ya nggak jauh dari cerita-cerita seram dan menakutkan. Karena suasananya memang benar-benar mencekam. Hujan dan petir sepanjang hari, sepanjang pekan, tak putus-putus.

Dari situlah ia kemudian menulis cerita dengan tokoh utama seorang monster bernama Frankstein.

Seorang yang lain, di Jerman, juga bingung melihat kereta-kereta yang lumpuh. Padahal manusia butuh bergerak ke sana ke mari lebih cepat. Kuda-kuda mati.

Maka, ia pun mengutak-atik nalarnya, mereka-reka akalnya, mengutak-atik imajinya, menghubung-hubungkan, lalu menemukan alat transportasi, yang sekarang kita kenal sebagai sepeda. Nama orang itu Karl von Drais.

Sepeda ciptaan Drais ini tanpa rantai atau kayuh. Hanya ada dua roda di depan dan belakang. Jadi, tenaga penggeraknya ya kaki-kaki si penunggangnya. Maklumlah, kala itu mungkin imajinasinya masih dipengaruhi alat transportasi kereta yang saban hari dilihatnya dan kemudian tiba-tiba hilang.

Roda-roda, kaki-kaki kuda yang kuat, dudukan atau kursi. Sesimpel itu. Baru kemudian dalam perkembangannya sepeda dikayuh dengan pedal, lalu berkembang lagi dengan rantai yang membuatnya lebih laju.

Bentang daratan yang dicatat mengalami penderitaan justru Eropa dan Amerika. Dengan kondisi cuaca empat musim, musim dingin menjadi satu-satunya musim sepanjang tahun. Dan itu tidak hanya terjadi dalam setahun, tapi tiga. Memang yang terparah adalah di tahun 1816, setahun setelah Tambora mbledhos.

Kondisi cuaca buruk itu pula yang membuat pasukan Napoleon kocar-kacir saat menghadapi Austria/Prusia dan Inggris, yang membuatnya menyerah kalah gara-gara banyak prajuritnya yang mati kedinginan di medan tempur yang beku. Kekalahan Napoleon, mengubah peta politik Eropa secara drastis.

Yang dialami Shelley dengan imajinasinya, atau Drais dengan otak mekanikanya, adalah jawaban atas keterbelengguan manusia pada satu tempat dalam jangka waktu lama menurut ukuran normal.

Keterpasungan pada kondisi alam, yang kemudian memaksa orang untuk berimajinasi dan berkreasi.

Mudah-mudahan setelah pagebluk Covid-19 ini, ada orang yang setara Shelley atau Drais, menciptakan sesuatu yang mengubah cara berpikir dan cara bekerja manusia setelah kondisi menjadi seperti sedia kala. Sementara yang dialami Napoleon adalah kekalahan yang tragis.

Kekalahan yang dipengaruhi oleh ketidaktahuan membaca cuaca yang berubah drastis karena Tambora. Kekalahan yang membuat situasi dunia masuk dalam sebuah medan baru, dan kemudian menjadi normal. New Normal.

Hari-hari ini, kita sedang dipahamkan tentang New Normal itu. Barangkai yang merancang istilah itu pun belum tahu apa dan bagaimana kehidupan New Normal dalam praktik sehari-hari ke depannya. Itu pun wajar belaka. Semua masih berusaha gagap-gagap. Rogoh-rogoh. Menerka-nerka apa yang bakal terjadi ke depan ini. Seperti orang buta menerka-nerka apa yang berada di depannya.

Tapi jika kita menengok sedikit ke belakang, ke zaman pandemi flu spanyol, atau ke zaman letusan Tambora, pandemi ini akan mengubah secara revolusioner, kalau tidak mau disebut drastis, cara orang bekerja, cara orang memproduksi barang dan jasa, cara orang berkomunikasi, cara orang hidup. Mungkin juga lansekap sosial dan politik atau sok kerennya pakai istilah geopolitik.

Kecuali mereka, kita, tak mau belajar dari apa yang terjadi di masa silam.(ted)

Alois Wisnuhardana
Penulis adalah Konsultan Komunikasi