https://beritajatim.com/wp-content/uploads/2020/05/saudi3.jpg
Saad al-Jabri pernah menjadi tangan kanan Pangeran Mohammed bin Nayef. [Foto: Bandar al-Galoud/BBC]

Keluarga Mantan Tangan Kanan Pangeran Mohammed Bin Nayef Kini ‘Menjadi Target’

by

Seorang pejabat senior keamanan Saudi yang selama bertahun-tahun merupakan perantara utama MI6 Inggris dan agen mata-mata Barat lainnya di Arab Saudi, kini dipersekusi bersama keluarganya, ujar mantan pejabat intelijen negara Barat.

Dr Saad al-Jabri, yang membantu menggagalkan rencana bom al-Qaeda melawan Barat, mengasingkan diri tiga tahun lalu menjelang pembabatan yang dilakoni putra mahkota yang sangat berkuasa, Pangeran Mohammed bin Salman.

Sekarang anak-anak Al-Jabri telah ditangkap sebagai “sandera”, menurut putra sulungnya, Khalid. “Omar dan Sarah diculik saat fajar pada 16 Maret dan diambil dari tempat tidur oleh sekitar 50 petugas keamanan negara yang tiba dengan 20 mobil,” kata Khalid al-Jabri.

Rumah keluarganya di Riyadh kemudian digeledah dan kartu memori CCTV dilepas. Adapun Omar dan Sarah, yang masing-masing berusia 21 dan 20 tahun, ditahan tanpa boleh berkomunikasi di sebuah tempat penahanan.

Tidak ada dakwaan atau alasan penahanan yang diberikan kepada keluarga untuk penangkapan mereka, kata Khalid kepada saya melalui telepon dari Kanada, tempat dia dan ayahnya tinggal di pengasingan. “Kami bahkan tidak tahu apakah mereka hidup atau mati.”

Dia meyakini mereka ditahan dalam upaya untuk memaksa ayahnya kembali ke Arab Saudi. Di sana, dia khawatir ayahnya akan segera ditangkap dan dipenjara. “Mereka bisa membuat kebohongan apa pun yang mereka inginkan, tetapi dia tidak bersalah.”

Pihak berwenang Saudi belum menanggapi permintaan BBC untuk mengomentari tuduhan yang dibuat oleh keluarga Dr Saad al-Jabri dan mereka yang bekerja dengannya.

Siapakah Saad al-Jabri? Selama bertahun-tahun Dr al-Jabri adalah tangan kanan Pangeran Mohammed bin Nayef, yang secara luas dipuji karena membantu mengalahkan perlawanan al-Qaeda pada 2000-an.

Dia juga merupakan kunci utama dalam semua hubungan Arab Saudi dengan badan intelijen “Lima Mata” (AS, Inggris, Kanada, Australia, dan Selandia Baru).

Pada 2010, hubungan penting ini “membantu menyelamatkan ratusan nyawa”, menurut mantan perwira intelijen Barat yang bekerja dengannya.

Al-Qaeda di Yaman menyelundupkan bom berdaya kuat di atas pesawat kargo menuju Chicago, yang disembunyikan di dalam kartrid tinta printer.

Tetapi intelijen Saudi memiliki informan di dalam al-Qaeda yang memberikan informasi kepada MI6, bahkan menyampaikan nomor seri perangkat yang disembunyikannya.

Polisi anti-terorisme Inggris kemudian menemukan dan menjinakkan bom di dalam pesawat di Bandara East Midlands. “Jika rencana itu berjalan sesuai rencana, ratusan orang akan terbunuh,” kata mantan perwira intelijen itu.

https://beritajatim.com/wp-content/uploads/2020/05/saudi4.jpg
Saad al-Jabri (dilingkari) disambut oleh mantan perdana Inggris Theresa May (kanan) dalam kunjungan ke London tahun 2015. [Foto: Bandar al-Galoud/BBC]

“Dr al-Jabri mengubah upaya Saudi melawan terorisme,” kata mantan pejabat intelijen negara Barat lainnya.
“Dia mengubahnya dari sistem yang kasar, kejam, berbasis pengakuan, menjadi sistem yang menggunakan forensik modern dan data berbasis komputer.”

“Dia adalah pria paling pintar yang kami temui di antara begitu banyak orang lain yang tidak berfungsi,” katanya.

Ia adalah pria yang cara bicaranya lembut, dengan gelar doktor dalam bidang kecerdasan buatan dari Universitas Edinburgh.

Dr al-Jabri pernah menjabat sebagai menteri kabinet dan memegang pangkat mayor jenderal di Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi.

Namun pada 2015 semuanya berubah. Raja Abdullah meninggal dan saudara tirinya Salman naik takhta. Ia mengangkat putranya yang masih muda dan belum teruji, Mohammed Bin Salman (dikenal sebagai MBS) sebagai menteri pertahanan.

MBS kemudian memerintahkan pasukan negaranya untuk campur tangan dalam perang saudara Yaman, sebuah langkah yang ditentang oleh Dr al-Jabri yang mengatakan tak akan ada strategi keluar dari perang itu.

Lebih dari lima tahun kemudian Arab Saudi masih mencari jalan keluar dari kebuntuan di Yaman, yang disebut mahal.

Pada 2017 MBS melakukan kudeta istana tanpa darah dengan restu ayahnya. Dia secara efektif menyerobot posisi selanjutnya ke tahta, yang dipegang Pangeran Mohammed bin Nayef, dengan menjadi putra mahkota.

Saat ini pangeran yang digulingkan itu ditahan, asetnya disita, dan mereka yang bekerja untuknya telah dicopot dari jabatannya.

Dr al-Jabri melarikan diri ke pengasingan di Kanada. Tetapi sejumlah mantan pejabat intelijen Barat percaya MBS masih melihatnya sebagai ancaman terhadap legitimasinya.

“Dia tidak bisa melihat pria itu sebagai orang radikal yang bebas, yang menjadi kekuatan untuk melawannya,” kata salah satu dari mereka.

Keluarganya mengatakan bahwa mereka telah berusaha menemui pihak berwenang Saudi “di lokasi netral”, tapi upaya itu sia-sia. Maka sekarang mereka memutuskan mengungkapkan hal itu ke publik.

“Ada tanda-tanda bahwa Dr Saad menjadi sasaran dengan berbagai ancaman dan pihak berwenang (Kanada) menanggapinya dengan serius,” kata putranya, Khalid. “Kami terpaksa melakukan ini,” tambahnya.

“Kami adalah patriot, kami mencintai negara kami, kami tidak ingin mempermalukan Arab Saudi, tetapi menculik Omar dan Sarah seperti ini, ini adalah premanisme yang dilakukan di siang hari oleh negara.” [BBC/air]