https://statik.tempo.co/data/2019/09/11/id_871571/871571_720.jpg
Serena Williams tampil usai peragaan koleksi S by Serena Williams di New York Fashion Week 2019, Selasa (10/9) (Instagram @style360nyfw)

Bangun Startup, Serena Williams Buka Peluang Kerja bagi Ibu

by

TEMPO.CO, Jakarta - Di Amerika Serikat, 34 persen perempuan meninggalkan pekerjaannya setelah memiliki anak. Keputusan tersebut sering kali diambil karena jadwal kerja yang tidak fleksibel dan biaya pengasuh anak terlalu tinggi bagi seorang ibu.

Namun, ketika ingin kembali bekerja, mereka kesulitan mendapatkan pekerjaan setelah jeda panjang. Mereka dianggap "kurang kompeten" dibandingkan dengan perempuan yang belum memiliki anak. Manajer juga sering kurang tertarik mempekerjakan, mempromosikan, dan mendidik seorang ibu yang bekerja dibandingkan dengan seorang perempuan tanpa anak.

Menurut sebuah studi 2018, ibu yang tinggal di rumah, sekitar setengahnya kemungkinan mendapat panggilan balik untuk pekerjaan seperti orang tua lain yang diberhentikan.

Diskriminasi semacam itu berlawanan dengan penelitian lain yang menunjukkan bahwa karyawan menjadi pekerja yang lebih baik dan lebih efisien setelah menjadi orangtua.

Berdasar fakta di atas, petenis Serena Williams tidak nyaman dengan tren ini. Dia bertekad membantu meningkatkan peluang para ibu di tempat kerja. Dia punya rencana untuk mewujudkannya.

Melansir laman Insider, Jumat, 14 Februari 2020, Serena Williams mengumumkan pada Rabu, 12 Februari 2020 dia bergabung sebagai penasihat strategis di The Mom Project. Platform ini menghubungkan para ibu dengan peluang kerja yang diinginkan, di mana mereka tidak akan dihukum karena kewajiban pengasuhan mereka.

"Tidak masalah apakah kamu tim yang terdiri dari satu atau 100 ribu; jika kamu mempekerjakan, apakah kamu mempertimbangkan untuk mempekerjakan ibu?" Williams mengatakan dalam siaran pers, berbicara kepada para pemimpin bisnis. "Bersama-sama, kita dapat mempengaruhi bagaimana pekerjaan dilakukan dan membangun tempat kerja yang lebih baik untuk masa depan."

Ide The Mom Project datang dari Allison Robinson saat dia cuti hamil dengan anak pertamanya dari pekerjaan penjualan pada 2016. Saat itulah dia sadar betapa umum bagi perempuan untuk mengambil istirahat dari bekerja setelah memiliki anak dan bagaimana sulit bagi mereka untuk mendapatkannya kembali.

"Saya melihat peluang besar - peluang ekonomi untuk membantu lebih banyak perempuan menemukan pekerjaan yang akan memuaskan mereka secara profesional dan pribadi," kata Robinson kepada Insider. "Ini hal yang tepat untuk dilakukan dan ini bisnis yang bagus."

Biaya pengasuhan anak sangat besar di Amerika Serikat. Di banyak negara bagian, biayanya lebih tinggi daripada biaya kuliah, yang berarti para ibu bahkan mungkin tidak mampu untuk bekerja.

Selain itu, kesenjangan upah antara pria dan wanita meningkat setelah seorang ibu bekerja memiliki anak, yaitu sekitar Rp 220 juta per tahun.

AS juga satu-satunya negara maju di dunia tanpa mandat cuti hamil berbayar. Beberapa ibu mungkin memenuhi syarat untuk tiga bulan cuti tanpa bayaran selama waktu pekerjaan mereka dilindungi. Setelah itu, PHK sering jadi pilihan. Jadi, masuk akal bahwa ibu dengan anak kecil cenderung memiliki pekerjaan di luar rumah daripada ibu dengan anak yang lebih tua.

The Mom Project bekerja untuk mendorong peluang kerja bagi para ibu di semua tahap karier mereka dengan melayani sebagai perantara pekerjaan. Platform ini menghubungkan para ibu yang mencari pekerjaan dengan perusahaan yang mungkin memiliki jam kerja yang fleksibel, pekerjaan paruh waktu, dan tunjangan yang mendukung.